Catatan Jurnalis Tribun Tipikor .Com —
Sumbawa Besar 21/06/2026 .
Sumbawa Besar, NTB – Langkah cepat dan progresif Bupati Sumbawa dalam mengawal Program Strategis Nasional (PSN) sektor industri unggas terintegrasi mulai menunjukkan hasil nyata. Pertemuan penting yang digelar di Gorontalo bersama jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian serta Komisaris Utama PT Berdikari menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat serius menjadikan Sumbawa sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri pangan nasional.
Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Di baliknya tersimpan agenda besar membangun kemandirian pangan berbasis potensi lokal, khususnya jagung dan peternakan ayam ras terintegrasi yang selama ini menjadi cita-cita besar masyarakat Sumbawa.
Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama Dirjen PKH hadir langsung memberikan dukungan. Sementara PT Berdikari sebagai BUMN pangan menegaskan kesiapannya menjadi off-taker utama yang akan menyerap hasil produksi peternak, mulai dari DOC hingga hasil akhir berupa daging ayam.
Sumbawa dan Gorontalo, Dua Raksasa Jagung Nasional
Tidak berlebihan jika Sumbawa dan Gorontalo disebut sebagai dua kekuatan besar jagung Indonesia. Kedua daerah ini telah lama menjadi pemasok utama bahan baku pakan nasional bahkan mampu menembus pasar ekspor ke Filipina.
Keunggulan tersebut menjadi modal utama bagi pembangunan industri ayam terintegrasi. Selama bertahun-tahun petani hanya menjual jagung mentah keluar daerah, kemudian kembali membeli pakan dengan harga yang jauh lebih mahal. Pola ekonomi yang dinilai tidak menguntungkan petani itu kini berpeluang diakhiri.
Dengan hadirnya industri terintegrasi, nilai tambah jagung akan dinikmati langsung oleh daerah penghasil. Jagung tidak lagi hanya menjadi komoditas ekspor mentah, tetapi diolah menjadi pakan yang kemudian menghasilkan produk protein hewani bernilai tinggi.
Bupati Sumbawa Pastikan PSN Tetap Berjalan
Di tengah polemik lahan yang sempat mencuat, Bupati Sumbawa menunjukkan ketegasan. Ia memastikan proyek tidak akan keluar dari Kabupaten Sumbawa.
Pemerintah daerah bahkan telah menyiapkan sejumlah lokasi alternatif yang dinilai siap secara teknis maupun administratif, yakni Teluk Santong, Labangka, dan Kerekeh.
Sikap tegas tersebut mendapat apresiasi berbagai kalangan karena menunjukkan keseriusan pemerintah daerah menjaga kepercayaan pemerintah pusat dan investor.
Data produksi jagung Sumbawa yang mencapai 715.641 ton pada tahun 2024 menjadi bukti bahwa daerah ini memiliki fondasi kuat untuk menopang industri peternakan skala besar. Keberhasilan mengekspor ribuan ton jagung ke Filipina semakin mempertegas posisi Sumbawa sebagai lumbung jagung nasional.
Peluang Ekonomi Besar, Ribuan Lapangan Kerja Menanti
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari berbagai elemen masyarakat. Mereka melihat PSN ayam terintegrasi bukan hanya soal pembangunan kandang atau pabrik pakan, tetapi juga peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Mulai dari petani jagung, peternak rakyat, pelaku UMKM, jasa transportasi hingga tenaga kerja lokal diperkirakan akan merasakan dampak langsung dari investasi besar tersebut.
Nilai investasi yang diproyeksikan mencapai Rp1,37 triliun untuk NTB diyakini mampu menciptakan pusat ekonomi baru yang selama ini dinantikan masyarakat Pulau Sumbawa.
Tantangan Harus Segera Dituntaskan
Meski optimisme terus menguat, pekerjaan rumah masih menanti. Kepastian status lahan menjadi faktor paling krusial agar pembangunan fisik dapat segera dimulai.
Bupati Sumbawa menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin proyek strategis ini tersendat oleh persoalan administrasi maupun legalitas. Karena itu, lokasi yang dipilih harus benar-benar memiliki status hukum yang jelas dan bebas sengketa.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, maka cita-cita menjadikan Sumbawa sebagai pusat industri hilir jagung dan ayam nasional bukan lagi sekadar wacana.
Kini bola ada di tangan seluruh pemangku kepentingan. Masyarakat berharap momentum emas ini tidak terbuang sia-sia. Sebab ketika jagung, pakan, peternakan, dan industri pengolahan terhubung dalam satu rantai produksi, Sumbawa berpeluang besar menjelma menjadi episentrum baru ketahanan pangan Indonesia.





