Miris! Tak Menunggu Pemerintah, Petani Lampung Selatan Patungan 3 Tahun Demi Bangun Jembatan Sendiri!

Lampung Selatan– tribuntopikor.com

Sebuah potret perjuangan sekaligus tamparan bagi pembangunan infrastruktur terjadi di Dusun 1 Sukaraja, Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. Di saat narasi “Ketahanan Pangan” digembor-gemborkan di tingkat nasional, para petani di desa ini justru harus berjuang sendirian demi menyambung urat nadi ekonomi mereka.

Lelah karena jembatan bambu satu-satunya akses mereka selalu hanyut setiap musim hujan, para petani di Desa Sukaraja membuktikan kekuatan “The Power of Gotong Royong”. Tak tanggung-tanggung, mereka konsisten menyisihkan uang hasil panen selama tiga tahun terakhir hingga terkumpul dana sebesar Rp50 juta.

Ironisnya, upaya meminta bantuan kepada pemerintah bukan tidak dilakukan. Menurut keterangan operator Desa Sukaraja, usulan pembangunan jembatan ini sudah diajukan sejak masa kepemimpinan Bupati Nanang Ermanto.
“Terakhir tahun 2025 kemarin diusulkan lewat Dinas Pertanian, tapi alasan mereka ini bukan jalan tembusan pemukiman warga,” ungkap pihak operator desa dengan nada kecewa.
Alasan administratif tersebut seolah menutup mata bahwa di ujung jalan tersebut terdapat 200 hektare lahan produktif yang menjadi sumber pangan bagi daerah.

Bagi petani seperti Eko, musim hujan bukan lagi soal berkah bagi tanaman, melainkan ancaman bagi akses jalan.
“Setiap mau panen, kami harus perbaiki jembatan bambu. Kalau banjir, bisa sampai dua kali jembatan itu hanyut terbawa air,” ungkap Eko miris.
Demi menyelamatkan ratusan hektare sawah dan perkebunan, para petani akhirnya bersepakat: “Kalau bukan kita, siapa lagi?” Mereka memilih berhenti berharap dan mulai bertindak dengan keringat sendiri.

Kemandirian di Tengah Keterbatasan
Meski sudah terkumpul Rp50 juta, dana tersebut nyatanya masih jauh dari cukup untuk membangun jembatan permanen yang layak. Dana ini murni berasal dari “pecah celengan” para petani yang setiap hari berjibaku dengan lumpur dan debu.
Lahan seluas 200 hektare di Kecamatan Palas ini adalah salah satu lumbung pangan yang selama ini terhambat distribusinya. Biaya angkut yang mahal dan risiko kecelakaan saat melintasi jembatan bambu menjadi beban tambahan bagi petani di tengah fluktuasi harga pupuk dan gabah.

Pesan Tersirat dari Sukaraja
Kini, jembatan swadaya itu mulai dibangun secara bertahap. Kisah ini bukan sekadar berita tentang pembangunan fisik, tapi tentang harga diri para petani yang menolak menyerah pada keadaan.

Sambil terus membuka pintu bagi dermawan yang ingin membantu, para petani Sukaraja memberikan pesan tersirat yang menohok bagi kita semua: Ketahanan pangan tidak akan pernah tercapai selama akses menuju lahan hanya dianggap sebagai “nomor dua” dibandingkan jalan pemukiman.(Wal)

Pos terkait