YASIKA TAWARKAN LABORATORIUM PENDIDIKAN UNSA: OTAK, ALAM, TEKNOLOGI DAN KESALEHAN SOSIAL JADI SATU NAFAS

Sumbawa Besar, NTB
TribunTipikor.Com —
Membangun lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengejar capaian akademik. Pendidikan harus mampu menjawab tantangan ruang, waktu dan lingkungan tempat anak-anak didik akan tumbuh, tanpa kehilangan nilai-nilai Islam sebagai fondasi pembentukan karakter.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi antara Suriyadi Chung, Direktur PAUD/TK dan SD YASIKA, Yayasan SAMAWA INTAN KALANIS, bersama Dr. Juanda, Dekan FKIP Universitas Samawa (UNSA), di ruang kerja Dekan FKIP UNSA.

Diskusi tersebut menjadi ruang bertukar gagasan tentang bagaimana menghadirkan lembaga pendidikan yang tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu, tetapi mampu menjadi ruang tumbuh bagi anak dalam menghadapi perubahan zaman.

Suriyadi Chung kepada media ini 10/09/2026 menjelaskan. menawarkan gagasan agar lembaga pendidikan YASIKA dapat dikembangkan menjadi laboratorium pendidikan UNSA. Konsep yang ditawarkan mengintegrasikan sejumlah unsur penting, mulai dari brain atau kemampuan berpikir anak, lingkungan, alam, teknologi, hingga kesalehan sosial.

Menurutnya, sekolah harus berani keluar dari pola pendidikan yang hanya berorientasi pada ruang kelas dan angka-angka akademik.

Anak-anak harus dipersiapkan untuk hidup di dunia nyata—berinteraksi dengan alam, memahami lingkungan, menguasai teknologi, memiliki daya pikir kritis, sekaligus mempunyai kepedulian dan tanggung jawab sosial.” Jelasnya

“Bagaimana membangun lembaga pendidikan sesuai dengan tempat dan waktu di mana anak-anak didik akan berada, tanpa melepaskan nilai-nilai Islam,” menjadi salah satu gagasan utama dalam diskusi tersebut.

Tawaran menjadikan YASIKA sebagai laboratorium pendidikan UNSA mendapat sambutan positif. Gayung pun bersambut. Tim UNSA direncanakan turun langsung pada pekan ini untuk melihat dan mendiskusikan lebih jauh konsep tersebut.

Langkah ini dinilai dapat menjadi awal kolaborasi antara dunia pendidikan tinggi dan lembaga pendidikan dasar dalam menghadirkan model pembelajaran yang lebih kontekstual, inovatif dan berkarakter.

Di tengah tuntutan pendidikan yang terus berubah, kolaborasi seperti ini menjadi penting. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan teori, sementara sekolah berjalan sendiri menghadapi persoalan pendidikan di lapangan.

Laboratorium pendidikan dapat menjadi jembatan: teori diuji di lapangan, pengalaman sekolah diperkaya oleh kajian akademik, dan anak-anak menjadi pusat dari seluruh proses pendidikan.

Apresiasi juga disampaikan kepada Tjung Elseran yang disebut terus mendorong berbagai ikhtiar pengembangan pendidikan tersebut.

“Terima kasih Tjung Elseran, pengabdian tanpa batas atas semua ikhtiar ini,” demikian apresiasi yang disampaikan dalam rangkaian diskusi tersebut.

Jika konsep ini benar-benar diwujudkan secara konsisten, YASIKA bukan sekadar menjadi lembaga pendidikan, tetapi berpotensi menjadi ruang eksperimen pendidikan yang menghubungkan kecerdasan, teknologi, alam, lingkungan dan nilai-nilai keislaman dalam satu ekosistem pembelajaran.

Pendidikan bukan sekadar mencetak anak pintar, tetapi menyiapkan manusia yang mampu berpikir, beradaptasi dan tetap memiliki kesalehan sosial
( Irwanto )

Pos terkait