Di Balik Pendidikan Usia Dini, Jeritan Honorarium Pengelola Kober Sindangagung

Kuningan – Tribun Tipikor.com

Di tengah tuntutan agar kualitas pendidikan terus ditingkatkan, ada persoalan klasik yang belum sepenuhnya terjawab: bagaimana nasib orang-orang yang setiap hari menjadi penyangga pendidikan anak usia dini?

Pertanyaan itu mengemuka dalam pertemuan Penilik Sekolah Kecamatan Sindangagung, H. Dadan Tedianto, S.Pd., M.Si., dengan sebagian pengurus lembaga pengelola Kelompok Bermain (Kober) PAUD.Senin ( 7/9/2026 )

Dalam pertemuan tersebut, para pengelola menyampaikan sejumlah keluhan. Salah satu yang paling mencolok adalah persoalan kesejahteraan dan honorarium yang mereka terima.

Honorarium dinilai masih sangat minim dan jauh dari harapan. Padahal, para pengelola dan pendidik Kober memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak usia dini.

Di hadapan para pengelola, Dadan menerima dan menampung berbagai aspirasi tersebut.

Keluhan itu sesungguhnya memperlihatkan persoalan yang lebih besar. Pendidikan anak usia dini kerap dibicarakan sebagai fondasi bagi pembangunan sumber daya manusia. Namun, orang-orang yang bekerja membangun fondasi tersebut justru masih menghadapi persoalan kesejahteraan.

Bagaimana mungkin kualitas pendidikan dituntut semakin tinggi jika kesejahteraan mereka yang menjalankannya masih jauh dari layak?

Para pengelola Kober berharap pemerintah tidak berhenti pada slogan tentang pentingnya pendidikan. Mereka meminta adanya kepedulian nyata dari Pemerintah Kabupaten Kuningan, terutama dalam memperhatikan kondisi kesejahteraan pengelola dan tenaga pendidik PAUD.

Harapan itu bukan semata soal menaikkan honorarium. Lebih jauh, mereka menginginkan adanya kebijakan yang memberikan kepastian dan penghargaan terhadap keberadaan lembaga PAUD sebagai bagian penting dari sistem pendidikan.

Pemerintah daerah memiliki ruang kebijakan melalui perencanaan dan penganggaran daerah. Karena itu, aspirasi para pengelola Kober layak dibawa ke meja pembahasan yang lebih serius: berapa sebenarnya perhatian anggaran daerah terhadap pendidikan usia dini, dan sejauh mana anggaran tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan para pendidiknya?

Pertanyaan itu penting agar persoalan PAUD tidak hanya dilihat dari jumlah lembaga, jumlah peserta didik, atau berbagai program yang dilaksanakan. Di balik semua angka tersebut terdapat manusia yang bekerja, mengajar, mengasuh dan mendampingi anak-anak setiap hari.

Pertemuan dengan Penilik Sekolah Kecamatan Sindangagung setidaknya menjadi ruang bagi para pengelola untuk menyampaikan suara mereka.

Kini bola berada di tangan pemerintah daerah.

Sebab, jika PAUD disebut sebagai fondasi masa depan Kuningan, maka mereka yang membangun fondasi itu semestinya tidak dibiarkan berdiri dengan kesejahteraan yang rapuh.

Jangan sampai pemerintah sibuk membangun gedung pendidikan, tetapi lupa membangun kesejahteraan orang-orang yang menghidupkan pendidikan itu sendiri.

dri hdw

Pos terkait