Rokhim Wahyono: Jangan Salah Memaknai Radikal, Berpikir Sampai ke Akar Justru Diperlukan Bangsa

KUNINGAN – Tribun Tipikor.com

Menanggapi pemberitaan mengenai kerentanan Generasi Z terhadap radikalisme digital, Rokhim Wahyono mengapresiasi langkah Diskominfo Kabupaten Kuningan yang terus memperkuat literasi digital dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Menurutnya, upaya tersebut penting sebagai benteng menghadapi derasnya arus informasi di media sosial.

Namun demikian, Rokhim mengingatkan agar masyarakat tidak keliru memahami istilah radikal. Menurutnya, sebagaimana sering dijelaskan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), kata radikal berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Secara hakiki, berpikir radikal berarti berpikir hingga ke akar persoalan, mencari penyebab paling mendasar dari suatu masalah agar solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat sementara atau menutupi gejalanya saja.

“Radikal dalam makna ilmiah dan filosofis bukanlah tindakan kekerasan. Radikal adalah cara berpikir yang mendalam, menyeluruh, objektif, dan berusaha menemukan kebenaran dari akar persoalan. Semua ilmuwan, filsuf, peneliti, bahkan para pembaru dalam sejarah, pada dasarnya berpikir secara radikal karena mereka tidak puas hanya melihat permukaannya,” ujar Rokhim.Senin ( 22/6/2026)

Ia menegaskan bahwa yang harus diwaspadai bukanlah sikap berpikir radikal, melainkan radikalisme, yaitu sebuah paham yang menjadikan kebencian, intoleransi, fanatisme sempit, serta kekerasan sebagai cara mencapai tujuan. Menurutnya, dua istilah tersebut memiliki makna yang sangat berbeda dan tidak boleh disamakan.

“Kalau seseorang mempertanyakan mengapa kemiskinan terjadi, mengapa korupsi terus berulang, atau mengapa ketimpangan sosial masih tinggi, kemudian ia menelusuri penyebabnya sampai ke akar masalah, itu adalah berpikir radikal. Justru cara berpikir seperti itulah yang dibutuhkan agar kebijakan publik menjadi tepat sasaran. Berbeda dengan radikalisme yang memaksakan kehendak melalui ancaman, kebencian, atau kekerasan,” jelasnya.

Rokhim menilai Generasi Z memiliki karakter kritis, cepat belajar, dan berani menyampaikan pendapat. Karakter tersebut merupakan modal besar bagi kemajuan bangsa apabila diarahkan melalui pendidikan karakter, literasi digital, penguatan logika berpikir, serta ruang dialog yang terbuka.

Menurutnya, penguatan literasi digital sebaiknya tidak berhenti pada kemampuan memilah informasi benar dan salah, tetapi juga mengajarkan masyarakat untuk berpikir kritis, memahami konteks, melakukan verifikasi, menghargai perbedaan pandangan, serta membangun budaya diskusi yang sehat.

“Jangan sampai masyarakat takut berpikir kritis hanya karena khawatir dicap radikal. Bangsa yang maju justru dibangun oleh warga yang mampu berpikir sampai ke akar persoalan, berani mengoreksi kesalahan melalui cara-cara konstitusional, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, kemanusiaan, persatuan, serta supremasi hukum,” tegasnya.

Di akhir keterangannya, Rokhim berharap istilah radikal tidak lagi digunakan secara serampangan sehingga menimbulkan stigma terhadap masyarakat yang berpikir kritis. Menurutnya, yang harus dilawan bersama adalah penyebaran paham radikalisme yang mengarah pada kekerasan, bukan semangat mencari akar persoalan demi menghadirkan solusi yang lebih adil, rasional, dan berkeadaban.

red/dr

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *