PENYANDANG DISABILITAS DI BANTAENG BERHARAP KEMBALI MENDAPAT PERHATIAN PEMERINTAH

Bantaeng, Sulawesi Selatan – Di balik berbagai program bantuan sosial yang terus disalurkan pemerintah untuk masyarakat kurang mampu, masih terdapat kisah warga yang berharap kembali mendapatkan perhatian dan kepedulian.

Adalah Asdar, warga yang tinggal di Rumah Nomor 66, RT 002 RW 004, Kampung Bombong, Desa Biangkeke, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Asdar merupakan seorang penyandang disabilitas dengan kondisi tangan yang mengalami cacat akibat patah permanen sehingga membatasi aktivitas dan kemampuannya dalam mencari nafkah.

Menurut keterangan yang diperoleh, Asdar sebelumnya pernah terdaftar dan menerima bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, dalam beberapa tahun terakhir namanya tidak lagi tercantum dalam daftar penerima bantuan sosial. Hingga kini, ia mengaku belum mengetahui secara pasti alasan dirinya terhapus dari data penerima bantuan tersebut.

Kondisi tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi Asdar dan keluarganya. Di tengah keterbatasan fisik yang dialami, ia tetap berusaha menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kesabaran. Namun, harapan untuk mendapatkan kembali bantuan yang pernah diterimanya masih tersimpan dalam hati.

Kisah Asdar menjadi pengingat bahwa di pelosok desa masih ada warga yang membutuhkan perhatian lebih, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan fisik dan kondisi ekonomi yang sulit. Bantuan sosial bukan sekadar bantuan materi, melainkan bentuk kehadiran negara bagi masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.

Melalui pemberitaan ini, masyarakat berharap pemerintah desa, pemerintah daerah, pendamping sosial, dan instansi terkait dapat melakukan peninjauan serta verifikasi ulang terhadap kondisi Asdar. Diharapkan tidak ada warga yang layak menerima bantuan namun terlewat dari pendataan maupun pembaruan data penerima manfaat.

Asdar tidak meminta kemewahan. Ia hanya berharap mendapatkan hak dan perhatian yang sama sebagaimana warga lain yang membutuhkan. Semoga kisah sederhana dari Kampung Bombong ini dapat mengetuk pintu hati para pemangku kebijakan untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang masih menanti sentuhan kepedulian dan keadilan sosial.

“Saya hanya berharap ada perhatian dan peninjauan kembali terhadap kondisi saya. Semoga pemerintah dapat membantu warga yang benar-benar membutuhkan,” ungkap Asdar penuh harap.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *