Sorotan Tajam:Gagalnya Mediasi Polisi Sejak Tahun 2025 Dua Perempuan Korban Bersimbah Darah,
Sumbawa Besar, NTB
tribuntipikor . Com —
Aksi kekerasan berdarah kembali mengguncang wilayah Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa. Seorang pria berinisial FIRMANSYAH alias PING (40), oknum PNS asal Dusun Labuan Terata, Desa Labuan Kuris, diduga mengamuk menggunakan parang hingga melukai dua perempuan dalam insiden mengerikan yang terjadi pada Jumat malam, 22 Mei 2026 sekitar pukul 20.00 WITA.
Peristiwa berdarah tersebut disebut bukan muncul secara tiba-tiba. Pihak korban menegaskan konflik ini merupakan persoalan lama yang sudah dilaporkan sejak awal Februari 2025 dengan harapan dapat dimediasi oleh pihak Polsek Lape.
Namun hingga berujung pertumpahan darah, korban mengaku tidak pernah dipertemukan untuk penyelesaian.
“Kalau sejak awal dimediasi dengan serius, mungkin kejadian berdarah ini tidak akan terjadi,” ungkap pihak keluarga korban dengan nada kecewa Kepada awak media ini 22/05/2026.
Insiden bermula saat istri pelaku berinisial RAHMATIA terlibat cekcok mulut dengan dua perempuan korban, BULAENG dan CANTIKA terkait persoalan hutang piutang yang disebut mencapai puluhan juta rupiah.
Pelapor sekaligus korban, AEDI (42), seorang nelayan asal Dusun Labuan Terata, menjelaskan bahwa keributan terjadi ketika istrinya, BULAENG, sedang berbelanja di kios milik warga bernama TITIN. Di lokasi itu, BULAENG terlibat adu mulut dengan RH istri terduga pelaku.
Situasi kemudian memanas dan berubah brutal. Terduga pelaku Firmansyah disebut keluar rumah sambil membawa parang dan langsung menyerang korban.
Tanpa ampun, parang diduga diayunkan ke arah tubuh BULAENG hingga menyebabkan luka sayatan serius di bagian punggung belakang.
Belum puas, beberapa saat kemudian CANTIKA, adik korban BULAENG, datang untuk melihat kondisi kakaknya. Namun nahas, ia juga diduga menjadi sasaran amukan pelaku.
Parang yang dibawa FIRMANSYAH disebut mengenai bagian kepala korban hingga mengalami luka robek cukup parah dan bersimbah darah.
Dua perempuan korban kemudian dilarikan ke Puskesmas Kecamatan Lape untuk mendapatkan penanganan medis darurat akibat luka serius yang dialami.
Pihak piket jaga Polsek Lape Regu II yang menerima laporan langsung bergerak dengan meminta keterangan korban serta mengamankan terduga pelaku ke Mapolsek Lape guna menjalani proses hukum lebih lanjut.
Kasus ini langsung memicu sorotan warga Kecamatan Lape. Masyarakat menilai tragedi berdarah tersebut menjadi bukti buruknya penanganan konflik yang telah berlarut sejak 2025 tanpa penyelesaian jelas.
Warga mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas, transparan, dan tidak bermain-main dalam menangani kasus penganiayaan menggunakan senjata tajam tersebut.
“Jangan sampai persoalan yang sudah lama dilaporkan malah dibiarkan sampai memakan korban,” tegas salah seorang warga yang tidak mau disebut namanya.
Hingga berita ini diterbitkan, situasi di wilayah hukum Polsek Lape dilaporkan masih dalam kondisi aman dan kondusif.
(Irwanto)





