Sumbawa Besar, NTB — tribunTipikor.com
Wajah baru ekonomi Kabupaten Sumbawa di bawah kepemimpinan Syarafuddin Jarot mulai menunjukkan denyut transformasi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Di tengah tekanan harga pangan, dinamika pasar global, dan keterbatasan fiskal daerah, arah kebijakan ekonomi kini digerakkan lebih tajam: memperkuat desa sebagai episentrum pertumbuhan.
Dengan moto Sabalong Samalewa, Sumbawa berdiri di persimpangan penting.
Struktur ekonomi memang masih kokoh bertumpu pada sektor pertanian.
Namun di balik dominasi agraris itu, geliat baru mulai tumbuh — industri mikro dan konektivitas digital membuka jalur percepatan kesejahteraan yang lebih merata.
Desa Agraris, Tapi Tak Lagi Berjalan di Pola Lama
Mayoritas desa di Sumbawa masih menggantungkan penghasilan utama pada sektor pertanian, terutama tanaman pangan yang menjangkau hampir seluruh wilayah.
Itu fakta.
Namun desa-desa tak lagi terpaku pada pola produksi mentah semata.
Industri Mikro dan Kecil (IMK) mulai tumbuh sebagai simpul nilai tambah.
Sejumlah desa bahkan berkembang menjadi sentra industri berbasis komunitas, ditopang keberadaan Koperasi Merah Putih (KMP) sebagai penggerak ekonomi kolektif.
Hasil tani tak lagi sekadar dijual mentah. Kini mulai diolah, dikemas, dan dipasarkan lebih luas. Desa perlahan bergerak dari produsen bahan baku menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Pemuda Pancasila Turun Gunung
Momentum ini tak luput dari perhatian Ahmad Fuadi, putra Sumbawa yang kini berkiprah di tingkat nasional sebagai salah satu petinggi DPP Pemuda Pancasila.
Dengan jejaring luas di kalangan investor dan pemangku kebijakan pusat,
” Fuadi menyatakan kesiapan berkontribusi untuk tanah kelahirannya.
Melalui pemberdayaan kader Pemuda Pancasila Kabupaten Sumbawa yang diketuai Syahruddin Lalu Bangsawan (Sandi), organisasi ini siap bersinergi dengan Pemkab untuk memperkuat sektor pertanian dan hilirisasi desa.
“Melalui program yang ditawarkan Ahmad Fuadi, kami optimistis pendapatan petani akan lebih kuat dibanding biaya yang dikeluarkan. Jika tren ini konsisten dan diiringi penguatan hilirisasi serta stabilitas harga, sektor pertanian bisa menjadi lokomotif penurunan kemiskinan yang lebih cepat,” tegas Sandi.
Internet Masuk Desa, UMKM Naik Kelas
Transformasi ekonomi desa semakin solid dengan akses digital yang hampir merata.
Sinyal internet menjangkau hampir seluruh desa di Sumbawa
Konektivitas ini menjadi fondasi penting digitalisasi UMKM — dari pemasaran hasil tani, promosi produk olahan, hingga akses informasi harga pasar secara real time.
Pertanian kuat. IMK tumbuh. Internet menjangkau desa.
Kombinasi ini bukan sekadar statistik — melainkan modal strategis percepatan pemerataan ekonomi.
Momentum Transformasi Desa
Gambaran ekonomi Sumbawa menunjukkan dinamika yang menarik:
Desa tetap agraris, tetapi bergerak menuju diversifikasi.
Kemiskinan menunjukkan tren menurun, meski sensitif terhadap fluktuasi harga pangan.
Kesejahteraan petani mulai membaik, terutama subsektor hortikultura.
Digitalisasi membuka pintu nilai tambah dan efisiensi rantai pasok.
Ke depan, penguatan hilirisasi pertanian dan agroindustri desa menjadi kunci.
Produk hortikultura unggulan harus didorong masuk rantai pasok modern, didukung cold storage, pengemasan profesional, hingga pemasaran digital berbasis data.
Stabilisasi harga pangan juga wajib menjadi strategi utama pengendalian kemiskinan.
Desa Berdaya, Kemiskinan Ekstrem Ditekan
Program Desa Berdaya menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurai simpul kemiskinan ekstrem secara gradual di titik-titik rawan.
Jika dijalankan konsisten, program ini bisa menjadi akselerator transformasi ekonomi berbasis desa.
“Dari desa yang bertumpu pada sawah dan ladang, menuju desa yang terhubung, produktif, dan mandiri.
Jika momentum ini terus terjaga, transformasi ekonomi desa bukan lagi wacana. Ini jalan nyata menuju kesejahteraan yang lebih merata,” pungkas Ahmad Fuadi.
Untuk mematangkan langkah konkret, Ahmad Fuadi dijadwalkan membahas program ekonomi desa bersama Bupati Sumbawa di sela acara buka puasa bersama Ikasum Jaya di kediaman Prof. Din Syamsuddin, Sabtu, 21 Februari.
Sumbawa sedang bergerak.
Pertanyaannya: siapa yang siap berlari bersama perubahan?
(Irwanto)





