Dividen BUMD (PT Blora Patragas Hulu), yang mengelola PI Blok Cepu untuk Kabupaten Blora pada 2025 capai Rp127 miliar.Blora (tribuntipikor.com) – PT Blora Patragas Hulu (BPH) mencatat setoran dividen dari Participating Interest (PI) Blok Cepu kepada Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada 2025 mencapai Rp127 miliar atau meningkat Rp27 miliar dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp100 miliar.

“Besaran dividen tersebut dipengaruhi oleh tingkat produksi Exxon Mobil sebagai operator di Blok Cepu, harga minyak dunia, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” kata Direktur Utama PT BPH Hamdun di Blora, beberapa waktu yang lalu.

Pada tahun lalu, pendapatan yang diperoleh BPH yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemkab Blora dari setoran PI Blok Cepu mencapai Rp130 miliar. Sebagian besar pendapatan tersebut kemudian disetorkan kembali kepada pemerintah daerah dalam bentuk dividen.

Meski produksi minyak di Blok Cepu saat ini mengalami penurunan, pendapatan perusahaan masih tetap terjaga karena didukung harga minyak dunia yang relatif tinggi.

Berdasarkan data SKK Migas hingga 31 Mei 2026, lifting minyak Exxon Mobil Cepu Ltd tercatat mencapai 129.915 barel per hari atau 87,5 persen dari target APBN 2026 sebesar 148.500 barel per hari.

Hamdun menilai keberadaan PI Blok Cepu masih menjadi salah satu sumber pendapatan strategis bagi Kabupaten Blora. Melalui dividen yang diterima setiap tahun, pemerintah daerah memiliki tambahan ruang fiskal untuk mendukung berbagai program pembangunan.
Di sisi lain, dia menilai pengembangan lapangan migas baru tetap diperlukan untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah penurunan cadangan minyak secara alamiah.

“Kalau prinsip alam, cadangan migas pasti semakin turun. Namun operator harus menjaga produksi harian sebagai pemenuhan pasar. Jadi menurut saya tetap akan ada kajian untuk pembukaan lapangan baru,” ujar dia.

Selain minyak bumi, lanjut Hamdun, Blok Cepu juga memiliki potensi cadangan gas alam yang cukup besar. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi penopang keberlanjutan industri migas di kawasan tersebut pada masa mendatang.

“Kalau menurut saya nanti akan bergeser ke gas alam. Namun untuk gas masih terkendala serapan atau pasar yang dituju. Harus ada perusahaan yang menyerap hasil gas tersebut untuk kebutuhan industri,” ujar dia. Tribuntipikor.com biro Blora (@_hiem)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *