MAJALENGKA — Media Tribun Tipikor
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mulai menjadi perhatian menjelang datangnya musim kemarau. Namun di tengah potensi ancaman itu, ada pemandangan yang terlihat berbeda di kawasan hutan Desa Cikaracak, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Selasa (19/5/2026).
Bukan rapat panjang, bukan sekadar imbauan dan bukan pula kegiatan seremonial. Awak media yang turun langsung ke lapangan mendapati puluhan orang bergerak menyusuri kawasan perbukitan TNGC sambil membuka sekat bakar sepanjang kurang lebih 15 kilometer. Jalur pengaman itu dibuat sebagai langkah antisipasi untuk menghambat potensi rambatan api ketika musim kemarau mulai memasuki fase rawan.
Di lapangan, suasana kegiatan berlangsung jauh dari kesan formal. Medan yang menanjak, jalur berbukit dan area hutan dengan kontur cukup berat justru menjadi ruang kerja bersama bagi para relawan. Mereka terlihat menyebar pada sejumlah titik yang dinilai memiliki tingkat kerawanan terhadap potensi kebakaran.
Kegiatan tersebut dilaksanakan Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) melalui SPTN Wilayah II Majalengka. Tim Resort Argalingga sebagai satuan wilayah TNGC pada SPTN Wilayah II Majalengka juga turut mendampingi selama kegiatan berlangsung.
Sekitar 60 relawan terlibat dalam kegiatan itu. Sejumlah Kelompok Tani Hutan (KTH) dari wilayah penyangga TNGC ikut turun langsung ke lapangan. Di antaranya KTH Cangehgar, KTH Bukit Cikaracak, KTH Caladi Sakti, KTH Ciremai Indah, KTH Waluya Bagja serta sejumlah KTH lain di sekitar kawasan TNGC wilayah Majalengka.
Yang menarik, keterlibatan KTH di lapangan terlihat bukan sekadar memenuhi daftar kehadiran sebuah kegiatan. Mereka tampak bergerak bersama, membuka jalur sekat bakar dan berada langsung pada area yang bersentuhan dengan kawasan hutan.
Di kawasan konservasi, kelompok seperti KTH sering menjadi pihak yang lebih dahulu bersentuhan dengan kondisi lapangan. Mereka mengenali jalur kawasan, mengetahui titik-titik rawan dan memahami perubahan situasi yang terjadi di sekitar hutan. Karena itu, keterlibatan masyarakat di tingkat tapak menjadi bagian penting dalam sistem perlindungan kawasan.
Sekat bakar sendiri merupakan jalur pemisah yang dibuat untuk memperlambat atau memutus rambatan api ketika kebakaran terjadi. Pada kawasan yang berbatasan langsung dengan aktivitas masyarakat, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi dini.
Namun dari kegiatan ini, yang tampak bukan hanya pembukaan jalur pengaman. Ada pergerakan yang memperlihatkan bahwa menjaga kawasan konservasi tidak selalu dimulai dari struktur besar. Di lapangan, gerakan itu justru tumbuh dari masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan hutan.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar, mengatakan kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan dari ancaman kebakaran maupun dampak musim kemarau.
“Langkah ini adalah upaya pelestarian alam dengan menjaga habitat hutan konservasi dari kemungkinan bencana El Nino dan kebakaran hutan akibat pembukaan lahan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu kami melakukan sekat bakar dan terus menambah pohon endemik secara konsisten agar hutan dan Gunung Ciremai tetap terjaga,” ujarnya.
Menurut H. Nandar, Paguyuban Silihwangi Majakuning saat ini menaungi 28 KTH yang tersebar di 28 desa wilayah Majalengka dan Kuningan. Jaringan tersebut selama ini terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi dan perlindungan kawasan.
Koordinator Lapangan, Itang, mengatakan menjaga kawasan hutan telah menjadi bagian dari kegiatan yang dijalankan secara rutin.
“Itu semua sudah menjadi kegiatan rutin kami dan berjalan lancar. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan Gunung Ciremai agar tetap asri dan manfaatnya terus terjaga,” ujarnya.
Dari lapangan terlihat satu hal yang cukup jelas. Menjaga TNGC ternyata tidak hanya berdiri di atas peran lembaga pengelola kawasan. Di balik bentang Gunung Ciremai, terdapat masyarakat yang terus bergerak dan memilih terlibat langsung menjaga kawasan. Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama jaringan KTH memperlihatkan bahwa perlindungan hutan tidak berhenti sebagai ajakan, tetapi dijalankan melalui tindakan yang nyata.
(Ivan Afriandi)





