Sekadau, Kalimantan Barat –
Semangat membangkitkan literasi dan memperkuat identitas budaya mendorong penyelenggaraan Kongres Literasi Dayak pertama yang akan digelar pada 15–16 Mei 2026 di Kampus Institut Teknologi Keling Kumang, Sekadau.
Selama ini, masyarakat Dayak kerap dipandang sebagai kelompok yang masih tertinggal dan tradisional. Pandangan tersebut, dalam konteks demokrasi, tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Namun di balik itu, Dayak sesungguhnya merupakan suku besar yang telah lama mendiami Pulau Kalimantan, bahkan lintas negara, termasuk di Sabah, Sarawak (Malaysia), dan Brunei Darussalam.
Secara historis, peradaban Nusantara juga memiliki jejak kuat di Kalimantan. Prasasti Muara Kaman di Kutai Kertanegara mencatat nama Kudungga sebagai raja awal, yang diyakini memiliki keterkaitan dengan masyarakat Dayak. Meski demikian, selama ratusan tahun, narasi tentang Dayak lebih banyak ditulis oleh pihak luar, terutama penulis Eropa, yang tidak semuanya sesuai dengan perspektif orang Dayak sendiri.
Kini, seiring meningkatnya akses pendidikan dan kemampuan literasi, masyarakat Dayak mulai menulis kisahnya sendiri. Mereka tidak lagi sekadar menjadi objek, tetapi tampil sebagai subjek yang aktif dan kompeten dalam membangun narasi dari dalam. Penulisan dari perspektif internal ini dinilai lebih objektif dan autentik.
Kongres Literasi Dayak menjadi momentum penting dalam gerakan tersebut. Selain sebagai ruang bertukar gagasan, kegiatan ini juga bertujuan membakar semangat literasi serta memperkuat identitas budaya Dayak di tengah perkembangan zaman.
Ketua Panitia Kongres, Masri Sareb, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan hasil dari proses panjang lintas negara yang penuh dinamika. Ia menegaskan bahwa kongres ini sepenuhnya didukung secara swadaya oleh para peserta sebagai bentuk kemandirian masyarakat Dayak, sekaligus menjauhkan kegiatan dari kepentingan politik.
“Antusiasme peserta sangat tinggi, termasuk dari Malaysia dan Brunei. Mereka bahkan rela memberikan donasi demi terselenggaranya kegiatan ini,” ujar Masri Rabu 6 Mei 2026.
Sejumlah tokoh dan akademisi Dayak dari berbagai wilayah dipastikan hadir, di antaranya Yohanes Tipa Pada, Gat Khaled dari Kalimantan Utara, Wilson, Damianus Siyok, serta Prof. Tiwi Etika dari Kalimantan Tengah. Dari luar negeri, turut hadir Prof. Louis Kanyan, Prof. Patricia Ganing, serta sastrawan Dayak asal Sarawak seperti Jaya Ramba dan Poul Nanggang.
Panitia lokal Sekadau, Anton Surya Wijaya Atmaja, menyampaikan bahwa daerahnya merasa terhormat menjadi tuan rumah kongres bersejarah ini.
“Sekadau mendapat kehormatan untuk tercatat dalam sejarah sebagai penyelenggara Kongres Literasi Dayak yang pertama,” ungkapnya.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Kabupaten Sekadau. Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sekadau, Purkismawati, menegaskan komitmen pihaknya dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kami siap mendukung penuh, bahkan jika harus bekerja di hari libur demi kelancaran kongres ini,” tegasnya.
Melalui kongres ini, diharapkan lahir karya-karya literasi yang mampu merepresentasikan jati diri Dayak secara lebih utuh, sekaligus memperkuat kontribusi masyarakat Dayak bagi kemajuan daerah, bangsa, dan dunia.
Di terbitkan: sungut.m/m.tt





