Kuningan|Tribun Tipikor.com
Jangan lagi kita menipu diri sendiri.
Apa yang terjadi di Kuningan hari ini khususnya di kawasan Palutungan dan sekitarnya—bukan pembangunan. Ini adalah persekongkolan antara kekuasaan dan pemilik modal yang mengorbankan rakyat serta lingkungan hidup secara sistematis.
Pemerintah Kabupaten Kuningan gagal total memahami makna pembangunan yang utuh. Yang terjadi justru sebaliknya: pembangunan dijalankan secara serampangan, tanpa konsep integral, tanpa kajian komprehensif, dan tanpa tanggung jawab ekologis.
Yang dibangun hanyalah “wajah depan” wisata sementara bagian belakangnya dibiarkan busuk, rusak, dan menunggu bencana.
RAMPAS TANAH RAKYAT, UNTUNGKAN SEGELINTIR ORANG
Pembangunan jalan dan kawasan wisata di Palutungan bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah proses perampasan ruang hidup masyarakat.
Tanah-tanah produktif milik petani digerus.
Lahan pertanian dikorbankan.
Dan yang lebih memuakkan, kuat dugaan ada praktik transaksi gelap dan permainan elit di balik pembebasan lahan tersebut.
Siapa yang diuntungkan?
Bukan rakyat.
Melainkan segelintir elite dan pemilik modal yang menjadikan Kuningan sebagai ladang bisnis.
PEMERINTAH TUTUP MATA, LINGKUNGAN DIHANCURKAN
Pemerintah daerah tidak bisa lagi berdalih tidak tahu.
Fakta di lapangan sangat jelas:
Tidak ada sistem drainase terpadu
Tidak ada pemisahan limbah
Tidak ada penataan kawasan penyangga
Tidak ada mitigasi dampak lingkungan
Ini bukan kelalaian biasa. Ini adalah pembiaran yang disengaja.
Air limbah dari kawasan wisata, rumah tangga, peternakan, dan usaha kecil dibiarkan menyatu dalam satu aliran. Saat hujan deras, semuanya turun ke bawah ke Cisantana, Pasir, hingga Cigugur membawa racun ekologis yang mematikan.
SUNGAI DIBIARKAN MATI, INFRASTRUKTUR DITINGGALKAN
Lebih parah lagi, infrastruktur dasar seperti sungai, bendungan kecil, dan pintu air dibiarkan rusak bertahun-tahun tanpa sentuhan.
Contoh paling nyata adalah Lebak Sipeong urat nadi air bagi petani yang kini:
rusak
tersumbat
longsor
dan tidak berfungsi
Ini bukan sekadar kelalaian teknis. Ini adalah pengkhianatan terhadap rakyat kecil yang hidup dari air dan tanah.
KEMATIAN 1.500 IKAN DEWA: BUKTI KEJAHATAN LINGKUNGAN
Peristiwa kematian sekitar 1.500 ikan dewa di Cigugur bukan kecelakaan.
Ini adalah bukti nyata kejahatan ekologis yang dibiarkan terjadi.
Selama berhari-hari hujan deras, air bercampur limbah dari Palutungan mengalir deras ke bawah, masuk ke kolam ikan. Membawa:
kotoran
sampah
limbah beracun
Dan hasilnya: kematian massal.
Jika ini bukan kegagalan pemerintah, lalu apa?
Jika ini bukan akibat dari pembangunan yang salah arah, lalu apa?
Ini adalah alarm keras bahwa sistem sudah rusak dari hulu ke hilir.
PEMBANGUNAN ATAU EKSPLOITASI TERSTRUKTUR?
Mari kita jujur:
Pembangunan di Kuningan hari ini bukan untuk rakyat.
Ini adalah:
pembangunan berbasis modal
pembangunan tanpa kontrol
pembangunan tanpa tanggung jawab
Lingkungan dihancurkan.
Rakyat dikorbankan.
Infrastruktur dasar dibiarkan mati.
Sementara pemerintah justru sibuk mempercantik etalase wisata demi angka kunjungan dan kepentingan politik.
Ini bukan pembangunan.
Ini adalah eksploitasi terstruktur yang dilegalkan oleh kekuasaan.
PERINGATAN TERBUKA: JANGAN TUNGGU BENCANA LEBIH BESAR
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang akan terjadi bukan sekadar kerusakan lingkungan—melainkan bencana sosial dan ekologis yang lebih besar.
banjir bandang
longsor
krisis air bersih
kehancuran pertanian
dan konflik sosial
Semua itu hanya tinggal menunggu waktu.
TUNTUTAN TEGAS
Kami menuntut:
Evaluasi total pembangunan kawasan Palutungan
Audit menyeluruh terhadap perizinan dan pembebasan lahan
Pembangunan sistem drainase dan pengelolaan limbah terpadu
Rehabilitasi sungai, bendungan, dan pintu air secara menyeluruh
Penghentian sementara proyek wisata yang tidak berbasis kajian lingkungan
Jika tidak, maka pemerintah daerah harus siap disebut sebagai aktor utama dalam kehancuran ekologis Kuningan.
PENUTUP: RAKYAT MULAI MELIHAT
Kematian ikan dewa bukan sekadar peristiwa.
Itu adalah simbol.
Simbol bahwa:
alam sudah rusak
sistem sudah gagal
dan rakyat mulai sadar
Jika pemerintah terus berpihak pada modal dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat, maka satu hal yang pasti:
Kepercayaan publik akan runtuh.
Dan ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah kemarahan.
Narasumber:
Iwa Gunawan
Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat





