Kuningan| Tribun Tipikor.com
Di banyak ruang kelas pendidikan anak usia dini, ada kecemasan yang diam-diam dipelihara: anak harus cepat bisa membaca, menulis, berhitung. Semakin cepat, semakin dianggap berhasil. Orang tua tenang, sekolah bangga.
Namun di balik itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apa yang hilang dari masa kanak-kanak yang dipercepat?
TKIT As Syifaiyyah memilih berdiri di sisi yang berseberangan.
Di sekolah ini, anak-anak tidak diburu target akademik. Tidak ada tuntutan harus segera lancar membaca di usia dini. Tidak ada tekanan angka. Yang ada justru ruang bermain, eksplorasi, dan kebebasan berekspresi sesuatu yang, dalam praktik pendidikan hari ini, justru terasa seperti kemewahan.
“Kami tidak percaya tekanan akan melahirkan potensi terbaik anak,” kata Kepala Sekolah, Rima Melati, S.Pd.I., M.Pd. “Yang kami lakukan adalah membuka ruang agar potensi itu muncul secara alami.”
Pernyataan itu terdengar ideal. Bahkan, bagi sebagian kalangan, mungkin terdengar terlalu longgar. Dalam ekosistem pendidikan yang kompetitif, pendekatan tanpa tekanan kerap dicurigai sebagai “kurang serius”.
Namun fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang tidak sederhana.
Sejumlah anak didik TKIT As Syifaiyyah justru mencatatkan prestasi yang tidak bisa dianggap remeh. Latasya Eka Ginanjar, misalnya, meraih Juara OMNI Sains tingkat nasional sebuah capaian yang biasanya diasosiasikan dengan pembinaan akademik intensif. Di saat yang sama, ia juga unggul dalam kemampuan bahasa dengan meraih Juara 1 mendongeng dan puisi tingkat Kabupaten Kuningan.
Ini menghadirkan paradoks: bagaimana mungkin anak yang tidak ditekan secara akademik justru mampu berprestasi?
Jawabannya mungkin terletak pada pendekatan yang selama ini kerap diabaikan pengembangan anak secara utuh.
Di TKIT As Syifaiyyah, dimensi keagamaan tidak diajarkan sebagai kewajiban kaku, melainkan sebagai kebiasaan yang tumbuh. Hasilnya terlihat pada capaian Dinara Faradiba Rafanda sebagai Juara 2 hafalan doa harian dan Sigit Permana Susanto sebagai Juara 2 tahfidz.
Di sisi lain, ekspresi seni tidak dipinggirkan. Syifa Anggraeni, misalnya, menunjukkan bahwa panggung seni bisa menjadi ruang aktualisasi yang sama pentingnya dengan kelas, dengan meraih Juara 1 lomba menyanyi tingkat Kabupaten.
Jika ditarik lebih jauh, pola ini mengarah pada satu hal: keberhasilan tidak dibangun dari satu dimensi saja. Anak-anak ini tidak “dipaksa unggul”, tetapi diberi ruang untuk menemukan keunggulannya sendiri.
Meski demikian, pendekatan seperti ini bukan tanpa tantangan.
Budaya pendidikan di masyarakat masih kuat bertumpu pada hasil cepat dan indikator instan. Banyak orang tua mengukur kualitas sekolah dari seberapa cepat anak bisa membaca atau berhitung. Dalam konteks ini, pendekatan berbasis eksplorasi sering kali harus berhadapan dengan ekspektasi yang tidak selalu sejalan.
Di sinilah peran institusi pendidikan diuji apakah mengikuti arus, atau berani menawarkan arah.
Pemerintah, setidaknya dalam pernyataan normatif, mulai mengakui pentingnya pendekatan ini. Kepala Bidang ( Kabid ) Pembinaan PAUD dan Dikmas, Dicky Mahardika, SE., M.Si., pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ( Disdikbud ) Kabupaten Kuningan menyebut bahwa pendidikan yang ideal adalah yang mampu menggali potensi anak, bukan sekadar menjejalkan materi.
Namun pertanyaannya belum selesai: sejauh mana pendekatan ini benar-benar menjadi arus utama, bukan sekadar contoh yang berdiri sendiri?
TKIT As Syifaiyyah mungkin belum menjawab seluruh persoalan pendidikan anak usia dini. Tetapi ia menghadirkan satu hal yang penting alternatif.
Bahwa di tengah kecenderungan mempercepat masa kanak-kanak, masih ada ruang yang memilih untuk menjaganya.
Dan mungkin, justru dari ruang yang tidak tergesa-gesa itulah, lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga utuh.
| andri hdw |





