KABUPATEN BANDUNG — Tribun Tipikor .Com // Upaya pelestarian dan rehabilitasi kawasan hutan terus didorong melalui pendekatan kehutanan sosial dan agroforestri yang menggabungkan kelestarian lingkungan dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPR RI sekaligus Anggota MPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. H. Dadang M. Naser, S.H., S.IP., M.IPol., saat menghadiri sosialisasi pelestarian hutan bersama masyarakat dan tokoh lingkungan Eyang Memet di rumah Eyang Memet, kampung papak manggu Desa Cibodas Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Dadang M. Naser mengangkat semangat “Hutan Lestari, Rakyat Berseri”, yang juga dikaitkan dengan kearifan lokal “Leuweung hejo, rakyat ngejo; leuweung ruksak, rakyat balangsak.”
Menurutnya, pengelolaan hutan tidak cukup hanya berorientasi pada penanaman pohon, tetapi perlu dilakukan melalui konsep kehutanan sosial dan agroforestri atau wanatani. Pendekatan tersebut memungkinkan kawasan hutan tetap memiliki tegakan tanaman endemik, sekaligus dapat ditanami berbagai jenis tanaman yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Pendekatannya adalah bagaimana hutan bisa menjadi hutan sosial, bagaimana penanganan daerah aliran sungai (DAS) dilakukan dengan konsep kehutanan sosial dan agroforestri,” ujar Dadang.
Melalui konsep tersebut, masyarakat dapat mengembangkan tanaman buah-buahan, tanaman hijauan untuk pakan ternak, hingga tanaman yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat kesehatan, seperti kelor, tarum, sukun, nangka dan daun salam.
Dadang mencontohkan tanaman kelor yang memiliki potensi ekonomi cukup besar. Menurutnya, kebutuhan terhadap daun kelor, termasuk untuk bahan olahan dan ekstrak, cukup tinggi. Namun, produksi kelor di Jawa Barat masih tersebar dalam skala kecil sehingga belum membentuk hamparan produksi yang dapat menunjang kebutuhan industri.
“Kalau satu hamparan di pinggir hutan ditanami kelor, tentu lebih bagus. Daunnya bisa diolah menjadi ekstrak dan memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas,” katanya.
Hal serupa, lanjutnya, dapat dikembangkan pada tanaman daun salam. Tanaman yang selama ini banyak tumbuh di lingkungan masyarakat tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas yang lebih terorganisasi apabila ditanam dalam skala kawasan.
Selain kelor dan salam, tanaman sukun juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pola agroforestri. Sukun dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan maupun bahan olahan, termasuk tepung.
Dadang menilai, pengembangan tanaman tersebut membutuhkan perencanaan kawasan yang matang, mulai dari kesesuaian ketinggian, lokasi, pembibitan, hingga pembentukan hamparan produksi.
“Untuk membangun hamparan industri tentu harus diperhitungkan kesesuaian lahannya, ketinggian, teknis budidaya dan kebutuhan pasarnya. Karena itu diperlukan rekayasa teknis sekaligus rekayasa sosial,” jelasnya.
Menurutnya, rekayasa sosial menjadi bagian penting karena keberhasilan rehabilitasi kawasan hutan tidak hanya ditentukan oleh kegiatan penanaman, tetapi juga keterlibatan dan kesepakatan masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
Ia menyebut kegiatan di Desa Mekarsari merupakan bagian dari keberlanjutan berbagai program sebelumnya, termasuk pembibitan dan upaya pengembangan lingkungan. Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut melalui pendampingan dan kolaborasi dengan masyarakat serta para pemerhati lingkungan.
Dadang juga menegaskan komitmennya untuk tetap membangun komunikasi dengan masyarakat dan kelompok pencinta lingkungan dalam mendorong program pelestarian kawasan hutan.
“Ini bukan hanya kegiatan hari ini. Ada kelanjutan dari program-program sebelumnya. Kita akan terus melakukan pendekatan dan pertemuan dengan masyarakat serta teman-teman yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Melalui pengembangan agroforestri, kawasan hutan diharapkan tidak hanya berfungs






