Tampak sejumlah pekerja yang melakukan aktivitas di ketinggian tidak mengenakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap. Kurangnya pengawasan pelaksana bahkan jarang ada ditempat lokasi kerja dalam mengawasi proyek berskala besar ini menuai sorotan tajam warga dan publik.
Bojonegoro Jatim, tribuntipikor.com // Miris dan berbahayaa..! Diduga rekanan Kontraktor CV. Maulana Natta Karya selaku Kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Barbuk Tahti, Arsip, Senjata, Tempat Parkir R2 dan Ruang Pertemuan Utama Polres Bojonegoro dalam pengerjaannya telah mengabaikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Proyek berskala besar tersebut terpantau menelan anggaran hingga Rp5.428.522.107.00 milyar, namun ironisnya fakta dilapangan menunjukkan pemandangan yang cukup mengerikan.
Hasil investigasi di lokasi pada selasa 08/09/2026 pukul 11:04 Wib ditemukan, semua pekerja terlihat tidak mengenakan helm, sabuk pengaman, sepatu safety dan lainnya, termasuk para pekerja yang melakukan aktivitas di ketinggian.
Lebih miris lagi, sejumlah pekerja yang berada di atas terlihat tanpa dilengkapi sepatu boot anti selip, tanpa sarung tangan, tanpa adanya fall arrestor (rope grab) di lokasi kerja, dan yang paling fatal tanpa mengenakan sabuk pengaman (safety belt atau full body harness).
Seorang mengaku bernama Totok sebagai Konsultan Pengawas dari CV. Bina Duta Permata saat ditemui di ruangan basakemp mengungkapkan bahwa sesungguhnya peralatan K3 sudah di siapkan, namun banyak dari pekerja lupa memakainya. Ungkapnya.
Disisi lain terlihat seorang mandor dengan pulasnya enak-enak tidur di ruangan basakemp.
Kepala Dinas PU. PKPCK, Satito Hadi, S.T.,M.T ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler Whatsappnya terkait hal tersebut Kadin tak merespon, padahal foto dan video juga dikirimkan. Namun Hpnya terlihat centang dua.
NP (32), salah satu warga yang kebetulan melewati area tersebut mengecam keras sikap abai dari pihak kontraktor khususnya Pengawas yang seolah membiarkan para pekerja disaat melakukan aktivitas kerja di atas ketinggian tanpa di fasilitasi standar keselamatan kerja secara penuh.
Logikanya mas, proyek berskala besar seharusnya lebih ketat perihal pengawasan keselamatan kerja terkait K3, kalau pengerjaannya seperti ini, yaa.! perlu dipertanyakan data kualifikasinya waktu lelang dulu. Tegas NP
“Peserta lelang seperti ini kok bisa menang tender… Yaa dulu.” Ungkapnya.
Ironis sekali melihat proyek yang didanai dari uang negara dengan nilai mencapai milyaran rupiah, namun standar keselamatan kerja diabaikan secara terang-terangan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar dari publik, Kemana para pengawas proyeknya?, Kemana alokasi anggaran K3 nya?.
Menurut NP, secara tidak langsung, pembiaran seperti ini merupakan salah satu bentuk kelalaian yang disengaja dan terencana.
Dinas terkait Pemkab Bojonegoro DPKP-Cipta Karya tidak boleh tutup mata akan hal ini, harusnya segera turun lapangan dengan adanya temuan ini. Pungkasnya. (KingSoli/Tim)





