Sarasehan Bojonegoro History Membedah Sejarah Peradaban Bojonegoro dalam Bukunya Maribong

Bojonegoro Jatim, tribuntipikor.com // Senergi Kementerian Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Rajekwesi, Medhayoh Bojonegoro, dan Walking Tour Bojonegoro Culture, Yayasan Jejak Sabda Nusantara adakan sarasehan melalui Bojonegoro History, bertemakan bedah ulang jejak peradaban sejarah Bojonegoro dengan bukunya berjudul Maribong

Buku penulisan mahakarya yang menceritan tentang sejarah Bojonegoro dan/atau menafsirkan ulang terkait rentetan sejarah peradaban kabupaten Bojonegoro ini, akan segera diterbitkan dalam waktu dekat oleh seorang penulis bernama Mohammad Andrea.

Giat sarasehan tersebut dilaksanakan pada Jumat malam tanggal 11/09/2026 mulai pukul 07:30 hingga selesai bertempat di halaman kantor Museum Rajekwesi Jl. Imam Bonjol Bojonegoro.

Rangkaian giat yang dipandu oleh moderator mas Fajar dengan menghadirkan tiga Narasumber yakni; guru sejarawan dari SMAN 1 Dander bapak Ahmad Satria Utama, kemudian Muhammad Andre dan Yuda Pratama ini mendapat antuasiasme para peserta sarasehan yang hadir.

Dalam penyampaiannya Ahmad Satria Utama yang akrab disapa mas Satria membedah sejarah dan peradaban Bojonegoro salah satunya Bojonegoro dalam konteks History Kerajaan yang diuraikan bahwa pada intinya History sejarah yang tidak lepas dari tiga kategori yakni:

  1. Manusia nya
  2. Tempat nya dan,
  3. Waktu nya dan,

Bilamana tidak memenuhi ketiga unsur tersebut maka bisa dibilang masuk kategori (A. History) karena harus masuk kategori 3 unsur tersebut.

Hal itu disampaikan ketika salah satu peserta bernama Solikin alias Herpoles minta dapatnya membedah sejarah di peradapan Bojonegoro di jamannya kerajaan Majapahit Kediri, dimana polemik yang berkembang hingga ke cerita rakyat ada sebuah kerajaan Molowopati dengan rajanya Prabu Angli Dharma.

Lebih lanjut, Satria pun menceritakan bahwa hal itu sudah memenuhi 3 unsur diatas dan sehubungan dengan melekatkan ke cerita rakyat olehnya hal itu perlu kajian lebih luas lagi. Kata Satria.

Ia juga menggaris bawahi adanya sumber api abadi (Khayangan Api) yang konon tempat bertemunya para resi juga dewa diantaranya dewa Brama, wisnu dan siwa.

Disisi lain, Kegelisahan peneliti sejarah Bojonegoro masih perlu mendalami karena saat itu peradaban para pujangga dalam mengungkapkan penuh dengan kesamaran, entah itu lokasi, manusianya dan waktunya, sehingga, sejarah berdasar fakta sangat penting guna menentukan jati diri Bojonegoro yang sesungguhnya.

Di penyampaiannya, M. Andrea selaku penggagas dan penulis buku Maribong, mengungkapkan bahwa makna dari pada luncuran buku ini adalah sebatas membedah ulang sejarah peradaban Bojonegoro. Guna mengigatkan kembali khususnya kepada generasi muda.

Sehingga, dengan meluncurnya penerbitan buku Maribong ini semoga memudahkan para generasi muda lebih luas untuk mendalami sejarah peradaban Bojonegoro. Ungkanya. (KingSoli)

Pos terkait