Babakan Jati Jadi Pelopor Program Penanaman Sorgum 100 Desa, 22,5 Hektare Masuk MOU PT CAG

Kuningan.- Tribun Tipikor.com

Jum’at 21 Agustus 2026 Dari sebuah desa di kaki wilayah pertanian Kabupaten Kuningan, sebuah gerakan baru mulai ditanam. Bukan sekadar benih sorgum yang masuk ke tanah, tetapi juga sebuah gagasan tentang bagaimana petani bisa memiliki kepastian usaha dari hulu hingga hilir.

Desa Babakan Jati, Kecamatan Cigandamekar, menjadi titik awal program penanaman sorgum di 100 desa se-Kabupaten Kuningan. Pada Jumat (21/8/2026), para petani bersama PT Cahaya Agro Gemilang (PT CAG) membangun komitmen kerja sama yang diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan komoditas sorgum secara lebih luas.

Yang menarik, gerakan itu tidak berhenti pada ajakan menanam. Sebanyak 22,5 hektare lahan milik atau partisipasi warga Desa Babakan Jati telah masuk dalam nota kesepahaman atau MOU dengan PT CAG. Angka tersebut menjadi langkah awal dari lahan yang diharapkan terus bertambah seiring meningkatnya keterlibatan petani.

Bagi petani, kepastian pasar menjadi salah satu persoalan penting dalam mengembangkan komoditas baru. Karena itu, kerja sama dengan PT CAG membawa satu poin strategis: adanya komitmen pembelian hasil panen.

Dengan pola tersebut, petani tidak hanya diarahkan untuk menanam, tetapi juga mendapatkan pendampingan teknis sekaligus kepastian ke mana hasil produksinya akan disalurkan.

Dari Hulu ke Hilir

Pendampingan teknis dilakukan oleh Petani Sorgum Indonesia (PSI). Petani mendapatkan pembinaan mulai dari tata cara budidaya, teknik penanaman, pemeliharaan hingga tahapan pascapanen.

Pola pendampingan dari hulu ke hilir tersebut menjadi bagian penting agar sorgum tidak sekadar menjadi tanaman alternatif, tetapi dapat berkembang menjadi usaha pertanian yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Pelopor petani, P. Johan, menjadi salah satu penggerak keterlibatan warga Desa Babakan Jati. Ia turut mendorong petani untuk bergabung dan membangun komitmen bersama melalui MOU dengan PT CAG.

Langkah tersebut mendapat dukungan Pemerintah Desa Babakan Jati. Kepala Desa bersama perangkat desa turut mengetahui proses kerja sama sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pertanian dan penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap pangan dan komoditas pertanian alternatif, sorgum dipandang memiliki peluang untuk dikembangkan. Karena itu, Babakan Jati diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga menjadi contoh bagi desa lain.

Menanam dengan Semangat Gotong Royong

Presiden Sorgum Indonesia, Rayhan Ari Sobari, menyampaikan rasa syukur atas keterlibatan masyarakat Babakan Jati yang telah mencapai 22,5 hektare.

Namun, angka tersebut bukan garis akhir.

PSI mendorong agar pengembangan sorgum diperluas melalui semangat gotong royong. Desa-desa lain di Kabupaten Kuningan diharapkan dapat mengambil bagian dengan membangun kelompok petani, mengembangkan wadah koperasi, dan mengelola penanaman secara mandiri.

Gagasannya sederhana: petani tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka dihimpun dalam sebuah kekuatan ekonomi bersama sehingga proses produksi, pendampingan, hingga pemasaran dapat dibangun secara kolektif.

Jika konsep tersebut berjalan, 22,5 hektare di Babakan Jati bisa menjadi lebih dari sekadar angka dalam sebuah MOU. Ia dapat menjadi titik awal dari gerakan yang lebih besar.

Dari satu desa menuju 100 desa.

Dari satu hamparan lahan menuju jaringan sentra produksi.

Dan dari sekadar aktivitas bercocok tanam menuju upaya membangun kemandirian ekonomi petani.

Harapan Baru dari Babakan Jati

Program penanaman sorgum di Babakan Jati memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Ia bisa tumbuh dari desa, dari lahan petani, dan dari kesepakatan sederhana yang memberikan kepastian kepada mereka yang menanam.

Pendampingan PSI memberikan pengetahuan teknis. PT CAG memberikan komitmen pembelian. Petani menyediakan lahan dan tenaga. Pemerintah desa memberikan dukungan.

Empat unsur tersebut menjadi modal awal untuk membangun ekosistem sorgum.

Kini tantangannya adalah menjaga agar komitmen itu tidak berhenti pada seremoni penandatanganan MOU. Produktivitas, kualitas hasil panen, kepastian pembelian, transparansi kerja sama, serta keberlanjutan pendampingan akan menjadi ukuran sebenarnya dari keberhasilan program.

Babakan Jati telah memulai langkah pertama.

Dari 22,5 hektare, gerakan itu diharapkan tumbuh ke desa-desa lain hingga mewujudkan program sorgum 100 desa di Kabupaten Kuningan.

Sebuah gerakan yang berangkat dari tanah, tumbuh bersama petani, dan diharapkan bermuara pada penguatan ekonomi masyarakat serta ketahanan pangan menuju Kuningan yang berlian.

andri hdw

Pos terkait