Tribun Tipikor.id
Rabu, 11 Juni 2026
Hari pertama pelaksanaan 2nd STIGA ASEAN Table Tennis Club Championship Challenge 2026 di Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad Bandung, Rabu (11/6), berlangsung kompetitif dengan dominasi tim-tim Indonesia di sejumlah pertandingan, khususnya pada kategori usia dini (U-13).
Pada sesi pagi pukul 08.30 WIB, beberapa wakil Indonesia berhasil mencatatkan kemenangan. PTMSI Paser menang atas NHI dengan skor 3-0, sementara PRG Bali juga mengalahkan Xiaobaiqiu Red (Singapura) dengan skor 3-0. Sukun Kudus turut mengamankan kemenangan 3-2 atas Arwana Jaya.
Namun, persaingan ketat terlihat ketika AIF Indonesia harus mengakui keunggulan ATTA Indonesia dengan skor 1-3. Sementara itu, Satellite Indonesia sukses mengalahkan Xiaobaiqiu White (Singapura) dengan skor 3-0.
Memasuki kategori Mixed Team pada siang hari, pertandingan semakin menarik dengan pertemuan antar klub kuat dari Asia Tenggara. Tim-tim seperti ONIC Sport, Bandung, PRG Bali, hingga Arwana Jaya harus menghadapi lawan tangguh dari Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina seperti VietED Team, Hai Duong, Thonburi University, dan Sukma Johor.
Ketua PtMSI, Indra Safari, menilai penyelenggaraan event ini menjadi bukti kuat bahwa Jawa Barat, khususnya Bandung, merupakan pusat pembinaan tenis meja nasional.
“Bandung adalah barometer tenis meja, terutama pembinaan usia dini. Banyak atlet nasional lahir dari Jawa Barat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kejuaraan ini menjadi momentum penting bagi atlet untuk mengukur hasil latihan sekaligus meningkatkan mental bertanding di level internasional.
Sementara itu, Ketua Panitia, Yon Mardiono, S.H., menjelaskan bahwa format kompetisi antar klub memberikan peluang lebih luas bagi atlet untuk tampil dibandingkan ajang antarnegara.
“Dengan sistem klub, lebih banyak atlet bisa merasakan pertandingan internasional. Ini penting untuk evaluasi dan pembentukan tim nasional ke depan,” katanya.
Pertandingan berlanjut hingga malam hari dengan jadwal padat mulai pukul 13.00, 15.00, 17.00, hingga 20.30 WIB, mempertemukan berbagai klub unggulan ASEAN. Beberapa laga menarik di antaranya mempertemukan ONIC Sport melawan VietED Team (Vietnam), serta Arwana Jaya menghadapi Sukma Johor (Malaysia).
Perwakilan Komite Olimpiade menegaskan bahwa kompetisi seperti ini menjadi bagian penting dalam sistem pembinaan menuju ajang besar seperti . “SEA Games adalah puncak, tapi prosesnya ada di sini. Atlet harus terus bertanding agar kualitasnya meningkat,” ujarnya.
Dengan partisipasi klub dari Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura, kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga tolok ukur kekuatan tenis meja di kawasan ASEAN.
Hari pertama menunjukkan potensi besar atlet Indonesia, khususnya dari Jawa Barat, yang diharapkan mampu terus berkembang melalui kompetisi berkelanjutan dan terstruktur di tingkat regional.
Reporter : Mehanur Revin





