Sumbawa Besar NTB
tribun ltipikor . Com — Ancaman krisis air tak lagi sekadar wacana. Sekretaris Daerah akhirnya angkat bicara dengan nada tegas: menjaga alam bukan pilihan, tapi keharusan yang tak bisa ditunda.
“Ini adalah pintu masuk kita membangun kesadaran bersama untuk menjaga alam, menjaga hutan kita, dan bermuara pada menjaga stabilitas sumber mata air kita. Ini harus dimulai dari sekarang,” tegas Sekda.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya kerusakan hutan dan berkurangnya debit sumber air di sejumlah wilayah.
Kondisi ini dinilai bukan sekadar dampak musim, melainkan akumulasi dari aktivitas manusia yang terus menggerus ekosistem.
Apa yang Terjadi?
Kerusakan hutan yang terus berlangsung disebut menjadi faktor utama terganggunya keseimbangan alam.
Alih fungsi lahan, pembalakan liar, hingga minimnya kesadaran masyarakat memperparah situasi.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Sekda menegaskan, tanggung jawab bukan hanya di pundak pemerintah. Masyarakat, pelaku usaha, hingga pemangku kebijakan harus bergerak bersama.
Tanpa kolaborasi, imbauan hanya akan menjadi rutinitas tanpa dampak.
Kapan Harus Bertindak?
“Sekarang, bukan nanti,” menjadi pesan kunci.
Menurutnya, menunda langkah hanya akan mempercepat datangnya krisis yang lebih parah.
Di Mana Dampaknya Terasa?
Wilayah-wilayah yang bergantung pada sumber mata air alami mulai merasakan penurunan pasokan. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin krisis meluas ke seluruh daerah.
Mengapa Ini Mendesak?
Air adalah kebutuhan dasar. Ketika sumbernya terganggu, efek domino akan menghantam sektor pertanian, kesehatan, hingga stabilitas sosial.
Sekda mendorong langkah konkret: rehabilitasi hutan, pengawasan ketat terhadap perusakan lingkungan, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Namun pertanyaannya, apakah ini akan benar-benar dijalankan atau kembali menjadi wacana tahunan?
Nada pernyataan Sekda kali ini lebih keras dari biasanya.
Tapi publik menunggu lebih dari sekadar kata-kata—mereka menuntut aksi nyata sebelum krisis benar-benar mengetuk pintu.
( Irwanto )





