Majalengka, Media Tribun Tipikor
Upaya penguatan mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus diperkuat menjelang potensi musim kemarau ekstrem. Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama sejumlah Kelompok Tani Hutan (KTH) menggelar kegiatan strategis yang difokuskan pada peningkatan kesiapsiagaan lapangan serta penguatan sarana pemadaman dini melalui penyerahan bantuan Jet Shooter (pompa punggung).
Kegiatan berlangsung di Buper Panten, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sebagai bagian dari langkah antisipatif untuk memperkuat perlindungan kawasan konservasi Gunung Ciremai dari potensi kebakaran hutan dan lahan pada periode cuaca kering ekstrem.
Menyikapi prakiraan BMKG mengenai kemarau ekstrem 2026 (April–Oktober) yang dipicu fenomena “Godzilla El Nino”, seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kekeringan panjang, gangguan produksi pertanian, serta meningkatnya risiko karhutla di kawasan TNGC yang memiliki fungsi ekologis vital sebagai daerah tangkapan air dan penyangga kehidupan masyarakat lintas wilayah.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar, menegaskan bahwa upaya perlindungan kawasan Gunung Ciremai harus dibangun melalui sinergi yang kuat antara Paguyuban Silihwangi Majakuning dan seluruh Kelompok Tani Hutan (KTH) sebagai garda terdepan di lapangan.
“Karena itu, mitigasi harus dimulai dari sekarang melalui kesiapan sarana, peningkatan kewaspadaan, serta kepedulian bersama terhadap kawasan hutan. Kita bersama seluruh KTH harus terus memperkuat upaya pencegahan di titik-titik rawan agar ketika terjadi kebakaran, penyebarannya dapat ditekan sejak awal,” ujar H. Nandar.
Ia menambahkan, apabila terjadi kondisi darurat, seluruh KTH diharapkan dapat bergerak cepat, saling membantu dan berkoordinasi secara solid untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan.
“Jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran, saya berharap seluruh KTH saling membantu dan saling berkoordinasi. Dengan kekompakan ini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan dampak kerugian dapat diminimalisir,” tegasnya.
H. Nandar juga menekankan bahwa menjaga kelestarian TNGC merupakan tanggung jawab bersama sebagai bentuk kepedulian terhadap alam yang telah memberikan manfaat, sumber penghidupan dan rezeki bagi masyarakat sekitar.
“Alam sudah memberikan banyak manfaat bagi kita. Sudah sepatutnya kita menjaga dan merawatnya bersama, termasuk memperkuat koordinasi dengan pihak TNGC dalam upaya antisipasi hingga penanganan cepat di lapangan,” tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Paguyuban Silihwangi Majakuning, Jumanta, menegaskan pentingnya pembelajaran dari kejadian kebakaran lahan yang pernah terjadi di wilayah Padabeunghar. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi peringatan bahwa risiko karhutla dapat meningkat signifikan pada musim kemarau, terutama dalam kondisi ekstrem akibat Godzilla El Nino, apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Pencegahan harus diperkuat melalui pemantauan wilayah rawan serta kesiapan personel. Penanganan awal juga harus dilakukan secepat mungkin agar api tidak meluas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di wilayah Argapura, kawasan sekitar Cikaracak menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki potensi kerawanan karhutla.
Di sisi lain, Itang menyoroti pentingnya pengawasan terhadap aktivitas perburuan liar di kawasan TNGC. Meski tidak memiliki kewenangan penindakan langsung, peran edukasi dan pencegahan dinilai sangat penting dalam menjaga kelestarian satwa dan ekosistem hutan.
“Kita harus terus mengingatkan agar tidak ada aktivitas perburuan di kawasan TNGC. Walaupun tidak bisa melakukan penindakan langsung, kita bisa mencegah melalui pendekatan, edukasi dan pelaporan kepada pihak berwenang,” katanya.
Sementara itu, Ilham menegaskan bahwa kekompakan antar-KTH menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas kawasan hutan Gunung Ciremai, terutama menghadapi musim kemarau panjang.
“Kekompakan harus terus dijaga. Persiapan sejak dini menjadi kunci agar kawasan hutan tetap aman dan ekosistem tetap terjaga,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning H. Nandar secara langsung menyerahkan bantuan alat pemadam Jet Shooter kepada Ketua KTH Cangehgar, Suroto, sebagai bentuk simbolis dalam rangka penguatan kegiatan antisipasi serta peningkatan kesiapsiagaan di lapangan apabila ditemukan titik api di kawasan TNGC maupun wilayah penyangga.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh para ketua KTH beserta jajaran anggota dari KTH Waluya Bagja, KTH Ciremai Indah, KTH Bukit Cikaracak, KTH Caladi Sakti dan KTH Cangehgar
Melalui sinergi antara Paguyuban Silihwangi Majakuning, KTH dan pihak terkait di kawasan TNGC, upaya pencegahan dan penanganan karhutla diharapkan semakin efektif, terstruktur dan berkelanjutan dalam menjaga kelestarian Gunung Ciremai sebagai kawasan konservasi strategis di Jawa Barat.
(Wartawan : Ivan Afriandi)





