Catatan Jurnalis Tribun Tipikor .Com ( Irwanto Messa )
Mataram NTB Senin 20/04/2026;
Gelombang kritik tajam kembali diarahkan kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait ketimpangan antara narasi besar pembangunan , seperti jargon “NTB Mendunia” , dengan kondisi riil masyarakat yang dinilai masih bergulat dengan persoalan dasar: kemiskinan, pengangguran, dan infrastruktur yang timpang.
Sorotan datang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk aktivis, akademisi, hingga kalangan jurnalis daerah, yang menilai kepemimpinan Gubernur NTB lebih kuat pada pencitraan dibanding penyelesaian masalah konkret di lapangan.
Kritik ini mencuat sepanjang awal tahun 2026, seiring dengan evaluasi publik terhadap capaian pembangunan pasca berbagai program unggulan yang gencar dipromosikan sejak beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini dirasakan di berbagai wilayah NTB, terutama di daerah pinggiran seperti Sumbawa dan Dompu, yang dinilai belum merasakan dampak signifikan dari program “mendunia” tersebut.
Kekecewaan publik dipicu oleh kesenjangan antara retorika dan realisasi.
Program-program strategis dinilai lebih banyak berhenti di level seremoni, tanpa pengawasan ketat dan dampak nyata. Sementara itu, kebutuhan dasar masyarakat seperti akses air bersih, lapangan kerja, dan pelayanan publik masih jauh dari kata optimal.
Alih-alih memperkuat implementasi kebijakan, pemerintah daerah dinilai terlalu fokus pada branding dan event berskala besar. Anggaran digelontorkan untuk kegiatan yang bersifat simbolik, sementara penguatan sektor riil seperti pertanian, perikanan, dan UMKM belum mendapatkan perhatian maksimal.
Nada Kritis:
Janji “mendunia” kini terdengar seperti gema kosong di tengah perut rakyat yang belum kenyang. Panggung megah boleh berdiri, tapi jika dapur warga masih berasap tipis, maka yang “mendunia” itu hanyalah ilusi yang dipoles rapi.
Gubernur NTB dituntut untuk keluar dari zona nyaman pencitraan dan kembali ke akar persoalan. Sebab, rakyat tidak butuh slogan , butuh solusi.
Jika tidak, maka “NTB Mendunia” hanya akan dikenang sebagai proyek narasi, bukan keberhasilan nyata.





