NTB Mendunia atau NTB “Meninggal Dunia”?

Rakyat Lunyuk Patungan Perbaiki Proyek Jalan Rp19 Miliar yang Mangkrak

Sumbawa Besar NTB
tribun Tipikor .Com –
Slogan besar “NTB Mendunia” yang kerap digaungkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat kini terasa seperti ironi pahit bagi masyarakat di Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa.

Di tengah klaim keberhasilan pemerintah daerah meningkatkan pendapatan pajak, warga justru dipaksa menghadapi kenyataan getir: memperbaiki sendiri jalan rusak akibat proyek pemerintah senilai lebih dari Rp19 miliar yang tak kunjung tuntas.

Proyek long segment jalan Lunyuk–Lenangguar yang dikerjakan oleh PT AJP asal Aceh sebagai pemenang tender kini berubah menjadi simbol kegagalan pembangunan.

Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi wilayah selatan Sumbawa itu kini justru dipenuhi kubangan lumpur, lubang menganga, dan permukaan yang membahayakan pengguna jalan.

Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari distribusi hasil pertanian hingga mobilitas warga sehari-hari.

Namun yang lebih menyakitkan, hingga kini tak terlihat langkah cepat dan tegas dari pemerintah provinsi untuk menuntaskan persoalan tersebut.

Merasa diabaikan, warga Lunyuk akhirnya mengambil langkah yang memalukan bagi pemerintah: patungan dan bergotong royong memperbaiki jalan dengan alat serta dana seadanya.

Abdul Muis, warga Kecamatan Lunyuk yang ikut terjun langsung dalam aksi swadaya itu kepada awak media tribun Tipikor .Com.09/03/26, meluapkan kemarahannya terhadap kondisi jalan yang dianggap sebagai bukti kegagalan proyek pemerintah.

“Ini bentuk pengkhianatan terhadap rakyat, khususnya masyarakat Sumbawa bagian selatan. Jangan lagi bicara NTB Mendunia.

Yang kami rasakan justru NTB seperti meninggal dunia,mati rasa terhadap penderitaan rakyatnya,” tegas Abdul Muis yang akrab disapa Aji.

Ia menilai pemerintah provinsi seolah tuli dan buta terhadap penderitaan masyarakat yang setiap hari harus melewati jalan rusak yang membahayakan keselamatan.

“Mana hati nurani para pejabat provinsi melihat kondisi seperti ini? Jangan tunggu ada korban jiwa baru sibuk tampil menjadi pahlawan,” tambahnya dengan nada geram.
Bagi masyarakat Lunyuk, proyek miliaran rupiah yang bersumber dari uang rakyat seharusnya memberikan manfaat nyata.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: proyek mangkrak, jalan rusak, dan rakyat dipaksa menanggung akibatnya.

“Kami tidak butuh retorika atau panggung pencitraan. Kami butuh tanggung jawab nyata. Ini uang rakyat, tapi hasilnya justru menyengsarakan rakyat,” kata Aji.

Aksi swadaya warga tersebut kini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Provinsi NTB dan pihak kontraktor pelaksana. Warga menuntut agar pemerintah segera turun tangan, mengevaluasi kontraktor, serta menuntaskan proyek jalan tersebut sebelum kondisi semakin parah dan menelan korban.

Masyarakat juga mendesak transparansi penggunaan anggaran lebih dari Rp19 miliar yang hingga kini dianggap gagal memberikan azas manfaat bagi warga Kecamatan Lunyuk.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar jalan rusak.

Ini adalah soal keadilan pembangunan , apakah slogan besar “NTB Mendunia” benar-benar untuk seluruh rakyat, atau hanya berhenti sebagai kata-kata indah di panggung kekuasaan.

(.Irwanto )

Pos terkait