Tarutung Tribun Tipimor
Akibat bencan alam Hitronologi Nopember lalu di Tapanuli Utara pemerita megusulkan
Proyek normalisasi Sungai diTaput yang digadang-gadang menjadi solusi Terbaik bagi warga di daerah Tapanuli Utata Penuh kini menuai kritik tajam. PT Wijaya Karya (Wika SDA) selaku pelaksana proyek dinilai lamban dalam menjalankan tanggung jawabnya, khususnya di wilayah yang di beri tahukan bapak bupati di bulan lalu adanya EnamTitik normanisasi sugai di taput yang harus di benahi.dandiselesaikan
Pantauan di lapangan pegerjaan normanisasi sugai kondisi baru dua titik yang sedang di kerjakan (10-3-2026) terlihat(1)sugai aek siancimun (2)sugai aek haidupan normalisasi ini masih lamban dan Kondisi ini di duga kontrak akan berahir di bulan maret memicu kekecewaan mendalam bagi masyarakat di Taput sekitar normalisasi yang berharap aliran sungai menjadi nyaman
Masalah ini diduga berakar dari lemahnya pengawasan dan eksekusi di tingkat sub-kontraktor atau vendor. yang diketahui merupakan vendor di bawah naungan PT Wika,SDA menjadi sorotan utama.di masyarakat dinilai lamban dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai standar yang diharapkan.
Kami melihat pekerjaan ini lamban sungai masih dibiarkan begitu saja. Kalau begini caranya, proyek? PT Wika SDA jangan hanya mau ambil untung tanpa memperhatikan masyarakat yang terdampak bencana ujar salah satu warga
Menanggapi carut-marutnya proyek ini, masyarakat mendesak Balai Wilayah Sungai Sumatera 2 (BWSS) taput untuk bertindak tegas. Warga meminta agar BWSS tidak mencairkan pembayaran
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Wika SDA maupun vendor yang bersangkutan belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan warga Taput dan desakan penghentian pembayaran tersebut. Masyarakat Taput normalisasi Sungai Penuh kini menunggu langkah konkret dari pihak pengawas proyek agar uang negara yang dikucurkan tidak terbuang percuma. (p.s)





