Kuningan|Tribun TIPIKOR.com
Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menyoroti secara serius dampak penambangan batu di kawasan Mayasih, Kabupaten Kuningan, yang dinilainya telah menimbulkan kerusakan lingkungan sekaligus persoalan sosial bagi masyarakat sekitar.
Menurut Iwa, aktivitas penambangan yang berlangsung selama bertahun-tahun, terutama dengan penggunaan alat berat, telah mengubah bentang alam secara drastis. Bukit-bukit batu yang sebelumnya menjadi penyangga ekosistem kini berubah menjadi tebing curam dan lubang-lubang dalam yang membahayakan lingkungan dan keselamatan warga.
“Mayasih ini bukan sekadar lokasi tambang, tapi ruang hidup masyarakat. Ketika penambangan dilakukan tanpa kendali dan tanpa perencanaan lingkungan, maka yang rusak bukan hanya alam, tapi juga masa depan warga,” ujar Iwa Gunawan, Sabtu ( 7/2/2026 ).
Ia mengungkapkan bahwa dampak paling nyata dari aktivitas tambang adalah berkurangnya sumber air bersih. Jalur air yang selama ini mengalir dari kawasan bukit batu berubah akibat kerusakan permukaan lahan, sehingga mengganggu kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, hingga kolam warga di wilayah hilir.
Di sisi lain, Iwa menegaskan bahwa penutupan tambang secara sepihak juga berpotensi menimbulkan masalah sosial baru. Sedikitnya terdapat sekitar 100 penambang yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas penambangan batu di kawasan tersebut.
“Kita tidak boleh menutup mata. Tambang memang bermasalah, tapi penambang adalah rakyat kecil. Mereka bekerja keras demi menghidupi keluarga. Negara dan pemerintah daerah wajib hadir memberikan solusi, bukan sekadar larangan,” tegasnya.
Iwa menilai bahwa persoalan tambang di Mayasih merupakan dilema klasik antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan skema alih mata pencaharian yang realistis dan berkelanjutan bagi para penambang.
Menurutnya, potensi penghijauan, pertanian, dan peternakan di sekitar kawasan bekas tambang dapat dikembangkan secara serius melalui pendampingan, pelatihan, dan bantuan modal.
“Banyak penambang sebenarnya sudah menanam pohon setelah menambang. Ini modal sosial yang baik. Tinggal bagaimana pemerintah mengarahkan agar mereka bisa beralih menjadi petani atau peternak secara bertahap,” jelasnya.
Sebagai Tokoh Pemuda Marhaen, Iwa menekankan pentingnya keadilan ekologis dan keadilan sosial berjalan beriringan. Ia menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan tidak boleh mengorbankan kehidupan rakyat kecil.
“Prinsip Marhaenisme jelas: alam harus dijaga, tapi rakyat harus diselamatkan. Jangan sampai tambang ditutup, tapi manusia yang hidup dari situ justru ditinggalkan,” pungkas Iwa.
| red/4nd121 |




