Kuningan|Tribun TIPIKOR.com
Krisis ekologis di Kolam Ikan Dewa Cigugur menyingkap persoalan yang jauh lebih serius dari sekadar berkurangnya debit air. Fakta di lapangan menunjukkan kombinasi fatal antara kesalahan desain infrastruktur, keputusan administratif yang keliru, serta pembiaran lintas institusi yang berujung pada kematian ikan dewa spesies endemik dengan nilai ekologis dan budaya tinggi.
Penanganan darurat yang dilakukan pada Jum,at (6/2/2026) justru membuka kegagalan lama yang selama ini tertutup. Pekerja terpaksa membobol coran permanen pada saluran pembuangan air karena kolam tidak memiliki sistem drainase yang berfungsi. Air dapat masuk, namun tidak pernah benar-benar bisa keluar. Desain kolam menyerupai “kuali tertutup”, kondisi yang secara ekologis cacat sejak awal.
Untuk menjaga sirkulasi sementara, tiga unit pompa air bantuan sektor perikanan dikerahkan. Namun upaya tersebut dinilai bersifat kosmetik. Di dalam kolam, ikan dewa terlihat mabuk, sekarat, dan mati. Kondisi itu menegaskan bahwa yang terjadi bukan peristiwa alam, melainkan akibat langsung dari rusaknya sistem habitat ikan.
Masalah semakin telanjang ketika air kolam menyusut drastis. Sumur alami di dasar kolam yang selama puluhan tahun menjadi ruang aman ikan saat kondisi ekstrem ternyata telah dicor permanen. Akibatnya, air tanah tidak dapat keluar, ikan tidak memiliki tempat berlindung, dan mekanisme penyelamatan biologis yang bekerja secara alami selama generasi kini dimatikan oleh beton.
“Air habis, ruang aman ditutup, ikan dibiarkan tanpa pilihan. Ini bukan musibah, ini kegagalan,” ujar seorang warga Cigugur yang sejak pagi memantau kondisi kolam.
Bagi masyarakat sekitar Balong Cigugur, peristiwa kematian massal ikan dewa ini disebut sebagai kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ikan yang selama ini dikenal kuat dan terjaga kini mati bergelimpangan. Kolam yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi jebakan ekologis.
Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai krisis ini sebagai hasil dari rangkaian keputusan institusional yang salah arah.
“Penutupan aliran air oleh PDAM, ditutupnya saluran bawah kolam, serta dimatikannya sistem pembuangan air bukanlah tindakan netral. Semua itu memiliki konsekuensi langsung terhadap ekosistem, dan dampaknya kini terlihat nyata,” tegas Iwa.
Ia juga mengkritik pola pengelolaan kolam yang dinilai gagal memahami karakter Kolam Ikan Dewa sebagai habitat hidup, bukan semata objek wisata atau sumber retribusi.
“Bangunan lama yang memiliki nilai sejarah diubah tanpa sensitivitas ekologis. Kualitas konstruksi rendah, fungsi ekologis hilang, dan kolam dikelola tanpa standar pemeliharaan habitat. Ini bentuk pengelolaan yang salah kaprah,” ujarnya.
Sorotan turut diarahkan kepada Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hilangnya vegetasi penyangga, melemahnya perlindungan kawasan, serta absennya peran aktif dalam menjaga mata air dinilai sebagai bentuk pembiaran yang mempercepat krisis.
Merespons kondisi tersebut, warga yang tergabung dalam Komunitas Penyelamat Mata Air dan Habitat Ikan Dewa Cigugur menyatakan sikap tegas. Mereka menyatakan kesiapan untuk mengambil alih pengelolaan kolam apabila pihak-pihak terkait terus gagal menjalankan tanggung jawabnya.
“Airnya disedot, kolamnya ditarif, tapi ekosistemnya dibiarkan rusak. Ini bukan pengelolaan sumber daya, ini eksploitasi,” tegas perwakilan komunitas.
Bagi warga Cigugur, Kolam Ikan Dewa kini menjadi simbol kegagalan pengelolaan sumber daya berbasis proyek beton. Kolam kehilangan fungsi ekologis, nilai budaya, dan manfaat sosialnya, padahal mata air dan kawasan ini menopang pertanian, lingkungan, serta identitas lokal.
Tanpa evaluasi menyeluruh dan perubahan tata kelola yang mendasar, krisis Kolam Ikan Dewa Cigugur dikhawatirkan menjadi preseden buruk: warisan alam dikorbankan oleh desain gagal dan pembiaran birokratis, lalu ditutup dengan alasan teknis.
| red/4nd121 |





