Tribuntipikor.com
Banda Aceh | Menuai Kontroversi Apel Perdana Awal Tahun 2026 digelar pada Senin 05 Januari 2026 di Halaman Kantor Bupati Aceh Tenggara, Bupati Salim Fakhry menyampaikan organisasi mahasiswa Aceh Tenggara di Banda Aceh atau biasa disebut IPMAT Banda Aceh telah memprovokasi.
Pernyataan Bupati Salim Fakhry menuai kontroversi dan kecaman dari kelompok mahasiswa, pihak mahasiswa mempertanyakan etika komunikasi Salim Fakhry sebagai pejabat publik, pasalnya dengan tegas mencatut lembaga mahasiswa IPMAT Banda Aceh yang notabene nya adalah organisasi mahasiswa Aceh Tenggara yang semestinya memiliki kedekatan emosional dengan Pemerintah Kabupaten Aceh tenggara.
Pernyataan Bupati Salim Fakhry, disambut oleh ketua IPMAT Banda Aceh Sabaruddin.
Sabaruddin menilai Bupati Aceh Tenggara sangap Sigap mengcounter issue ritikan dari pihaknya.
“Kita kagum dengan Bupati Aceh Tenggara Bapak Salim Fakhry, laksanakan Apel Siaga terhadap ASN Pemda untuk menyatakan IPMAT Banda Aceh telah memprovokasi, agar ASN dilingkungan Pemda tidak terprovokasi oleh virus akal sehat, kritikan IPMAT Banda Aceh” ujar Sabaruddin.
Ketua IPMAT Banda Aceh mengapresiasi sigapnya bupati Aceh Tenggara dalam mengcounter Kritik dari IPMAT Banda Aceh, namun Sabaruddin menilai sigapnya bupati masih salah sasaran.
“Ya apresiasi lah, bupati kita cepat dan sigap, akan tetapi saya merasa imut juga terhadap pak Bupati, beliau termasuk pejabat senior tapi masih saja salah sasaran dalam menyikapi kritikan, bahkan kritikan dianggap Provokasi.” Ucap Sabaruddin dengan tawa.
Sabaruddin juga sebut Bupati Salim Fakhry, ibarat Salah minum obat yang menimbulkan kekeliruan dalam menyikapi kritikan mahasiswa. Harusnya yang disikapi dan di urus ialah lamban nya BPBD dan Dinsos penanganan terhadap korban bencana hidrometeorologi 2025 yang hingga saat ini korban belum tertangani dengan baik.
“Kritikan IPMAT Banda Aceh jelas bahwa Penanganan terhadap Korban Bencana oleh BPBD dan Dinsos tidak maksimal, bukannya mengevaluasi dua OPD itu malah anggap Kritik sebagai Provokasi” ucap Sabaruddin dengan tawa terbahak-bahak.
Satu sisi Sabaruddin menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi pemerintah kabupaten Aceh Tenggara, dengan kualitas Kepemimpinan Bupati Salim Fakhry yang demikian berpotensi membawa Aceh Tenggara jatuh ke dalam jurang, khususnya yang dikhawatirkan saat ini nasib korban bencana hidrometeorologi 2025.
“Kita sudah lihat, bukanya sibuk melobi bantuan malah Bupati ini sibuk validasi, ini sudah dekat bulan ramadhan dan belum ada kejelasan hunian yang layak di bangun pemerintah, mestinya pikirkan ke situ lah” Tegas Sabaruddin dengan nada serius.
“Hadir di tengah masyarakat korban memang dapat menghibur warga, tapi itu bukan solusi. Pikirkan nasib korban jangka panjang, hunian layak, santunan 15jt, penggunaan hibah 4M, bantuan rumah 60jt/KK, bantuan 600ribu/bulan bagi korban, ini apa kabarnya dan Pemutakhiran data korban harus dengan cepat dan tepat” sambungnya.
IPMAT Banda Aceh tetap mengawal bantuan Rehab Rekon, agar kebiasaan mengambil keuntungan dari proyek bencana dengan cara tidak sah bisa diminimalisir dan bantuan Rehab Rekon di kabupaten Aceh Tenggara tepat sasaran.
“Kami bersama Solidaritas Paguyuban Mahasiswa/OKP Aceh Tenggara se-Indonesia telah melaksanakan konsolidasi pada 03 Januari 2026, tergabung di dalam nya IPMAT Medan, IPMAT Jabodetabek, IKAMARA Yogyakarta dan SAPMA PP Aceh Tenggara ,kami berkomitmen untuk mengawal Rehab Rekon dan kebijakan Bupati agar memihak kepada masyarakat ” tegas Sabaruddin Ketua IPMAT Banda Aceh.





