GAMAS Kuningan Soroti Euforia Tahun Baru yang Menjurus Maksiat, Ajak Generasi Muda Lakukan Muhasabah

Kuningan|tribunTIPIKOR.com

Pergantian tahun kerap diwarnai euforia berlebihan yang mengarah pada gaya hidup hedonis. Fenomena tersebut ditandai dengan maraknya pesta minuman keras, penyalahgunaan narkoba, hingga perilaku seks bebas yang terjadi di berbagai tempat dan seolah menjadi rutinitas tahunan, khususnya di kalangan generasi muda.

Kondisi ini dinilai sebagai bentuk degradasi moral yang serius. Dalam perspektif agama, terutama syariat Islam, perilaku tersebut merupakan penyimpangan nyata dari norma dan nilai keimanan. Praktik maksiat seperti konsumsi miras, narkoba, dan seks bebas tidak hanya tergolong dosa besar, tetapi juga diyakini dapat mengundang murka Allah SWT, yang dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pelaku, melainkan masyarakat secara luas apabila dibiarkan.

Menyikapi fenomena tersebut, Ketua Gerakan Anti Maksiat (GAMAS) Kabupaten Kuningan, Ustadz Iing Sholihin, menyampaikan keprihatinan sekaligus pesan moral kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Ia menegaskan bahwa momentum pergantian tahun seharusnya dimaknai sebagai ajang muhasabah, introspeksi diri, serta upaya meningkatkan kualitas iman dan akhlak, bukan larut dalam perayaan yang bertentangan dengan nilai agama dan sosial.

“Euforia tahun baru jangan sampai menghilangkan akal sehat dan nilai keimanan. Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat. Maksiat yang dilakukan secara terbuka dan massal sangat berbahaya karena dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku, tetapi juga masyarakat luas,” ujar Ustadz Iing, Rabu(31/12/2025).

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah, untuk bersama-sama memperkuat pengawasan dan pembinaan moral. Menurutnya, peran keluarga dan lingkungan sangat menentukan dalam membentengi generasi muda dari pengaruh negatif pergaulan bebas.

Lebih lanjut, GAMAS mendorong masyarakat agar mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan positif dan bernilai ibadah, seperti doa bersama, zikir, serta refleksi diri. Dengan demikian, tahun baru dapat menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, bermakna, dan bermoral.

“Pergantian tahun hendaknya menjadi momentum perbaikan diri, bukan justru awal dari kemaksiatan,” tuturnya

| andri hdw |

Pos terkait