Kematian Waitres Batu Guring Penuh Misteri, Keluarga Bongkar Dugaan Pembunuhan Terstruktur — Desak Kapolda NTB Autopsi Ulang

Sumbawa Besar NTB
tribuntipikor.Com –


Kasus kematian Rusnaini (20), seorang waitres di Cafe Helena, Batu Guring, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa NTB, semakin mengarah pada dugaan rekayasa kematian. Pernyataan resmi Polsek Alas Barat yang menyebut korban bunuh diri dengan senapan angin kini dipertanyakan keras oleh keluarga dan saksi kunci.
Korban yang berasal dari Teluk Lobam, Kepulauan Riau, ditemukan tewas secara tidak wajar. Namun, sejumlah fakta yang kini terungkap justru mengindikasikan ada skenario sistematis untuk menutup dugaan pembunuhan.

Kurnia, keluarga korban di Tanjung Uban, mengungkap bahwa pada Kamis (11/12), keluarga menerima video Rusnaini dalam kondisi sekarat, mulut berlumuran darah. Video itu dikirim oleh teman korban, namun setelahnya nomor pengirim mendadak tidak aktif.
Yang lebih mengerikan, keluarga bahkan tidak tahu Rusnaini sudah berada di Sumbawa. Mereka mengira korban masih bekerja di Batam.
“Kami kaget. Kami tidak tahu dia ada di Sumbawa, apalagi katanya sudah menikah siri dengan pemilik cafe,” kata Kurnia.” jelasnya

Setelah kejadian, pemilik Cafe Helena menghubungi ibu korban dan mengirimkan ongkos ke Sumbawa. Namun dengan syarat janggal:
keluarga laki-laki tidak boleh ikut, yang datang harus perempuan.
“Di situlah kami yakin ini bukan bunuh diri. Kalau tak ada yang ditutup-tutupi, kenapa harus takut pada keluarga laki-laki?” ujar Kurnia.

Kejanggalan berikutnya, keluarga diminta segera menguburkan jenazah dengan dalih jika ditunda satu-dua hari akan membusuk — tanpa dilakukan autopsi.
“Ini bukan alasan medis, ini alasan untuk menghilangkan bukti,” tegas Kurnia.

Media juga memperoleh keterangan saksi kunci yang menyebut bahwa Rusnaini kerap mengalami penyiksaan.
Empat bulan sebelum kematian, korban bahkan sempat diikat oleh pemilik cafe.
“Yang mengikat Aini itu pemilik cafe sendiri. Ini bukan bunuh diri. Ini pembunuhan yang direkayasa,” ujar saksi.
Saksi juga menyerahkan rekaman suara, pesan WhatsApp, dan bukti digital yang menguatkan dugaan adanya skenario pembunuhan. Seluruh bukti telah diteruskan ke penyidik Polres Sumbawa.
Kasat Reskrim Polres Sumbawa, AKP Delia Pria Firmawan, membenarkan bahwa pihaknya membuka ruang penyelidikan lanjutan.
“Silakan bawa saksi kuncinya. Kami akan lakukan pemeriksaan,” katanya.

Keluarga korban yang terganjal biaya kini berencana mendatangi Polda Riau untuk meminta bantuan resmi agar Kapolda NTB memerintahkan autopsi ulang.
“Kami hanya ingin kebenaran. Kalau ini dibunuh, jangan sampai pelaku lolos hanya karena korban orang miskin dan yatim,” tegas Kurnia.
Kasus Rusnaini kini tak lagi soal kematian, tetapi soal dugaan kejahatan terorganisir, penyiksaan, dan upaya menghilangkan barang bukti.
Jika aparat tidak bergerak cepat, maka hukum kembali menunjukkan keberpihakannya pada yang kuat — dan meninggalkan yang lemah dalam sunyi.
(Irwanto)

Pos terkait