Blora Jawa Tengah, tribuntipikor.com //
Jutaan kilogram pupuk bersubsidi di Kabupaten Blora masih tersimpan di gudang Pupuk Indonesia. Kabid Sarpras Dinas Pangan Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora, Sukandar, mengakui penyerapan pupuk oleh petani belum bisa 100 persen.
“Berdasarkan pantauan awak media di lapangan, bahwa pada saat ini banyak petani beralih ke pupuk organik . Sehingga realisasi sampai bulan desember 2025 ini, penyaluran terbesar pada pupuk NPK 94,21 persen sedangkan Urea 85,79 persen, dan organik 67,54 persen,” terangnya,
la mengungkap pada 2025 ini Kabupaten Blora mendapatkan alokasi pupuk Urea 67,25 juta kilogram, pupuk NPK sebanyak 56,1 Juta kilogram, dan pupuk organik sebanyak 9 juta kilo.
Dengan jatah itu, artinya masih menyisakan pupuk Urea sekitar 9,5 juta kilogram, pupuk NPK tersisa sekitar 4,2 juta kilogram, dan organik sekitar 2,9 juta kilogram.
Sukandar menjelaskan, persentase penyaluran pupuk Urea terendah ada di Kecamatan Ngawen sebesar 78,51 persen. Sementara penyerapan tertinggi ada di Kecamatan Kradenan sebesar 93,24 persen.
Untuk pupuk NPK, ia mengatakan penyerapan terendah ada di Kecamatan Jati sebesar 88,52 persen dan tertinggi di Kecamatan Tunjungan 99,09 persen.
“Sementara untuk pupuk organik terendah di Kecamatan Kunduran sebayak 55,29 persen dan tertinggi Banjarejo 89,57 persen,” sambungnya.
Sukandar mengungkap tidak ada kendala dalam distribusi pupuk. Namun menurutnya kemampuan dan kesadaran petani dalam menggunakan Urea dan organik masih perlu ditingkatkan.
“Selain itu ada petani yang terdaftar di E-RDKK tidak memanfaatkan pupuk bersubsidi, karena beralih ataupun tidak bertani lagi,” tambahnya. (@_hiem)





