Indikasi Pembiaran: Diduga Proyek Irigasi Rp3 Miliar di Ngumpakdalem Dander, Debu Bertebaran Hingga Beton Pecah

Bojonegoro Jatim, tribuntipikor.com // Pelaksanaan Pembangunan Proyek Jaringan Irigasi Daerah Irigasi Balong tepatnya di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, kali ini banyak menjadi keluhan sejumlah warga setempat hingga menjadikan sorotan publik.

Hal itu berawal dari hasil temuan awak media pada Kamis tanggal 08/10/2026 saat datang ke lokasi proyek dimana warga mengeluhkan udara berdebu yang mengganggu aktivitas sehari-harinya. Disamping itu, kondisi jalan yang disebut semakin rusak akibat lalu-lalang kendaraan pengangkut material proyek.

“Debu dari aktivitas pembangunan proyek ini kerap beterbangan, sampai masuk ke dalam rumah, terutama saat kendaraan melintas di jalan sekitar permukiman.” Ucap Warga.

“Polusi udara ini sangat mengganggu kenyamanan warga, bahkan warga sudah minta untuk disiram pada kontraktornya, tapi tak digubris.” Imbuhnya.

Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bojonegoro Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak mencapai Rp3.051.493.200 tersebut juga menjadi perhatian terkait kondisi sejumlah bagian konstruksi yang ditemukan pecah dan ambrol di lokasi pekerjaan.

Disisi lain, tampaknya warga juga turut mempertanyakan kondisi konstruksi pada bagian tertentu yang disebut mengalami kerusakan (Pecah) meskipun pekerjaan masih relatif baru diselesaikan.

“Belum lama dikerjakan kok sudah pecah dan ambrol to mas, ini dikerjakan sesuai aturan apa tidak to.?” Ungkap warga kepada awak media.

Tentunya keluhan tersebut menjadikan perhatian tersendiri, pasalnya, pekerjaan pembangunan infrastruktur yang menggunakan anggaran daerah semestinya memperhatikan mutu standar Konstruksi, Spesfikasi, keselamatan, serta dampaknya terhadap masyarakat di sekitar lokasi.

Kurangnya pengawasan dari pihak Dinas terkait berdampak disejumlah Bagian Konstruksi Terlihat Pecah. Hal itu mengacu disaat awak media melakukan penelusuran langsung dan menemukan sejumlah bagian beton atau konstruksi yang tampak pecah dan ambrol di area proyek. Dan,

Kondisi tersebut perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak teknis guna memastikan penyebab kerusakan, kesesuaian spesifikasi, serta kualitas pelaksanaan pekerjaan.

Keluhan warga terkait debu yang beterbangan akibat aktivitas kendaraan dan pekerjaan proyek. Memperkuat perlunya langkah pengendalian debu dan evaluasi terhadap dampak mobilisasi material di sekitar permukiman.

Meski demikian, temuan visual berupa beton yang pecah atau ambrol belum dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan adanya pelanggaran spesifikasi maupun penyimpangan anggaran diperlukan pemeriksaan teknis, dokumen kontrak, gambar perencanaan, serta keterangan dari dinas terkait untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Dalam upaya memperoleh klarifikasi, awak media mencoba meminta keterangan kepada seseorang yang disebut sebagai pelaksana proyek yang mengaku bernama Zaki.

Saat ditanya mengenai perbedaan metode konstruksi pada sejumlah bagian pekerjaan, Zaki menyampaikan bahwa bagian sebelah timur menggunakan batu, sedangkan bagian lainnya menggunakan cetakan beton.

Namun anehnya ketika ditanya mengenai nama perusahaan atau CV yang mengerjakan proyek, Zaki mengaku tidak mengetahuinya.
Awak media juga mempertanyakan kondisi beton yang terlihat pecah dan apakah material tersebut layak dipasang.

Menurut keterangan Zaki, pemasangan menggunakan alat berat sehingga kondisi beton yang pecah tersebut dianggap tidak menjadi persoalan.

Pernyataan itu masih memerlukan penjelasan teknis lebih lanjut dari pihak kontraktor dan pengawas pekerjaan, Kelayakan material serta metode pemasangan semestinya mengacu pada spesifikasi teknis, dokumen kontrak, dan ketentuan mutu yang berlaku, bukan semata-mata pada penggunaan alat berat. (KingSoli /tim)

Pos terkait