DUA TOKOH MUDA, SATU ENERGI BARU UNTUK NTB

Pilgub 2029: Ketika Pengalaman, Jaringan Global dan Energi Generasi Baru Mulai Dipertemukan

MATARAM NTB
tribuntipikor . Com — Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) 2029 mulai menarik perhatian publik, meski tahapan resmi kontestasi tersebut masih berada jauh di depan. Perbincangan mengenai figur dan arah kepemimpinan NTB pun mulai mengemuka di ruang publik.

Dua nama yang mulai menjadi sorotan adalah Dr. Zulkieflimansyah, mantan Gubernur NTB, dan Muhammad Rizky Farabi, figur yang disebut merepresentasikan energi generasi milenial dan kedekatan dengan perkembangan dunia digital serta ekonomi kreatif.

Keduanya memiliki latar belakang dan karakter politik yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut justru dapat menjadi titik temu gagasan mengenai bagaimana NTB menghadapi tantangan masa depan.

Zulkieflimansyah dikenal memiliki latar belakang akademisi sekaligus pengalaman sebagai Gubernur NTB. Pada masa kepemimpinannya, isu industrialisasi daerah dan program beasiswa ke luar negeri menjadi bagian dari kebijakan yang banyak diperbincangkan.

Sementara itu, Muhammad Rizky Farabi dipandang sebagai representasi generasi yang tumbuh dalam ekosistem digital. Kedekatan dengan kelompok muda, perkembangan teknologi, ekonomi kreatif, serta perubahan pola komunikasi masyarakat menjadi modal sosial yang dapat diperhitungkan dalam peta politik NTB ke depan.

Bukan Sekadar Soal Tua dan Muda

Jika pengalaman pemerintahan dan jaringan yang telah terbentuk bertemu dengan energi generasi baru, NTB berpotensi mendapatkan perspektif kepemimpinan yang lebih beragam.

Namun, politik tidak cukup hanya dibangun melalui popularitas figur.

Masyarakat membutuhkan gagasan yang terukur, program yang realistis, rekam jejak yang dapat diuji, serta keberanian mengambil keputusan untuk kepentingan publik.

Di tengah tuntutan pembangunan yang semakin kompleks, NTB membutuhkan pemimpin yang mampu menjawab persoalan lapangan: lapangan kerja, pendidikan, industrialisasi, pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, infrastruktur, hingga transformasi digital.

Di sinilah pengalaman dan energi muda dapat diuji.

Apa yang Bisa Ditawarkan?

Siapa yang memimpin? Pertanyaan itu penting, tetapi bukan satu-satunya.

Apa yang akan dilakukan? Bagaimana caranya? Dengan anggaran berapa? Dan apa manfaatnya bagi masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru harus menjadi ukuran utama menjelang Pilgub NTB 2029.

Jika Zulkieflimansyah membawa pengalaman pemerintahan, akademik dan jejaring yang telah terbentuk, sementara Rizky Farabi membawa perspektif generasi muda dan perubahan zaman, maka pertemuan dua karakter tersebut dapat menjadi bahan diskusi publik yang menarik.

Bukan berarti keduanya harus berada dalam satu kendaraan politik. Juga belum berarti keduanya telah menyatakan diri sebagai pasangan atau calon dalam Pilgub 2029.

Ini adalah wacana politik yang masih sangat dini dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

NTB Tidak Boleh Berhenti pada Retorika

Kontestasi 2029 semestinya tidak berubah menjadi sekadar perang baliho, slogan dan pencitraan.

NTB membutuhkan pertarungan gagasan.

Masyarakat harus diberikan ruang untuk menilai siapa yang memiliki visi paling jelas, program paling masuk akal dan kemampuan paling kuat untuk mewujudkannya.

Karena itu, perbincangan mengenai dua figur ini seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “siapa yang lebih populer?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Siapa yang mampu membawa NTB bergerak lebih cepat, lebih berani dan lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat?

Pada akhirnya, Pilgub NTB 2029 bukan sekadar pertarungan antara generasi lama dan generasi baru.

Ini tentang bagaimana pengalaman bertemu energi muda, bagaimana jaringan bertemu kreativitas, dan bagaimana gagasan berani diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.

Jika itu terjadi, NTB tidak sekadar melanjutkan perjalanan.

NTB bisa melompat lebih jauh.
( Irwanto )

Pos terkait