KAWALI DPD Kuningan Desak Mitigasi Ketat Sebelum Geotermal Gunung Ciremai Berjalan

KUNINGAN —Tribun Tipikor.com

Rencana pengembangan energi panas bumi atau geotermal di kawasan Gunung Ciremai mendapat perhatian serius dari KAWALI DPD Kabupaten Kuningan.

KAWALI menilai pengembangan energi terbarukan tidak boleh hanya dihitung dari besarnya potensi listrik dan investasi. Keselamatan sumber air, hutan dan ekosistem Ciremai harus menjadi prioritas utama.

“Jangan hanya menghitung berapa megawatt listrik yang bisa dihasilkan. Kita juga harus menghitung berapa besar nilai air, hutan dan ekosistem Ciremai bagi kehidupan masyarakat,” tegas KAWALI DPD Kuningan.

Menurut KAWALI, Gunung Ciremai memiliki fungsi ekologis strategis sebagai kawasan penyangga kehidupan dan sumber air bagi masyarakat. Karena itu, setiap rencana aktivitas panas bumi harus dilakukan berdasarkan kajian ilmiah yang transparan dan prinsip kehati-hatian.

Energi Bersih Harus Aman dari Hulu hingga Hilir

KAWALI menilai istilah energi bersih tidak boleh berhenti sebagai label.

Seluruh tahapan kegiatan, mulai dari eksplorasi, pengeboran, produksi hingga reinjeksi fluida panas bumi, harus dapat dibuktikan memiliki sistem pengamanan terhadap lingkungan dan sumber air.

“Kalau disebut energi bersih, maka prosesnya juga harus benar-benar memperhatikan keselamatan lingkungan. Jangan sampai listriknya bersih, tetapi sumber air masyarakat justru menghadapi risiko,” tegas KAWALI.

KAWALI meminta pemerintah membuka informasi secara transparan mengenai lokasi kegiatan, kajian geologi dan hidrologi, dokumen lingkungan, rencana pengeboran, sistem reinjeksi, hingga kajian potensi dampak terhadap sumber air.

Baseline Air Harus Ada Sebelum Pengeboran

Salah satu tuntutan utama KAWALI adalah tersedianya baseline data kondisi sumber air sebelum kegiatan proyek dimulai.

Data tersebut setidaknya harus mencakup debit mata air, kualitas air, kondisi akuifer, pola aliran air bawah tanah serta parameter lingkungan lainnya.

“Kalau baseline tidak jelas, ketika terjadi perubahan debit atau kualitas air, kita akan kesulitan menentukan apakah itu perubahan alami atau berkaitan dengan aktivitas proyek,” ujar KAWALI.

Karena itu, KAWALI meminta pengukuran dan pemantauan dilakukan secara berkala serta melibatkan pihak independen sehingga hasilnya dapat dipercaya publik.

Sumber Air Harus Mendapat Perlindungan

KAWALI juga mendorong adanya zona perlindungan terhadap sumber-sumber air strategis yang digunakan masyarakat.

Mata air yang menjadi sumber kebutuhan warga tidak boleh ditempatkan sebagai objek eksperimen.

KAWALI mendorong penerapan standar teknis pengeboran yang ketat, termasuk casing dan penyemenan yang memadai, perlindungan terhadap lapisan air tanah serta sistem pengelolaan dan reinjeksi fluida yang mencegah pencemaran lingkungan permukaan.

“Air masyarakat tidak boleh menjadi variabel yang dikorbankan demi mengejar target investasi dan produksi energi,” tegas KAWALI.

Jangan Sampai Hutan Ciremai Menjadi Korban

Selain persoalan air, KAWALI menyoroti potensi tekanan terhadap kawasan hutan dan ekosistem Gunung Ciremai.

Pembangunan jalan, wellpad, jaringan pipa dan fasilitas pendukung harus dirancang dengan prinsip minim pembukaan lahan.

KAWALI juga mendorong kajian terhadap penggunaan teknologi pengeboran terarah atau directional drilling untuk mengurangi jumlah tapak pengeboran apabila secara teknis dan lingkungan memungkinkan.

“Jangan sampai proyek energi terbarukan justru menciptakan fragmentasi habitat dan mengurangi fungsi kawasan hutan yang selama ini menjadi penyangga kehidupan,” tegas KAWALI.

Masyarakat Harus Dilibatkan Sejak Awal

KAWALI juga menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh hanya dijadikan objek sosialisasi.

Warga yang berada di sekitar wilayah terdampak harus mendapatkan informasi sejak awal mengenai rencana kegiatan, potensi risiko, manfaat, mekanisme pengawasan dan prosedur penanganan apabila terjadi dampak.

Jika terdapat komunitas masyarakat adat atau kelompok masyarakat yang memiliki keterikatan sosial dan kultural dengan wilayah tersebut, KAWALI meminta prinsip partisipasi bermakna serta mekanisme persetujuan berdasarkan informasi yang memadai diperhatikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Jangan sampai masyarakat hanya diberi tahu bahwa proyek akan berjalan. Mereka harus tahu risikonya, manfaatnya, mekanisme pengawasannya dan apa yang dilakukan apabila terjadi dampak,” ujar KAWALI.

KAWALI Pertanyakan Siapa Pengawasnya

Pertanyaan lain yang diajukan KAWALI adalah mengenai mekanisme pengawasan apabila proyek memasuki tahapan eksplorasi dan pengembangan.

KAWALI mendorong keterlibatan akademisi, ahli lingkungan, masyarakat lokal dan organisasi masyarakat sipil dalam mekanisme pemantauan.

Pengawasan, menurut KAWALI, tidak boleh hanya bergantung pada laporan pihak yang menjalankan proyek.

“Harus ada mekanisme pengawasan yang independen dan transparan. Data kualitas air dan lingkungan harus dapat diperiksa dan diketahui publik,” tegas KAWALI.

Manfaat Ekonomi Harus Dirasakan Masyarakat

KAWALI juga menilai sumber daya panas bumi harus memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar menghasilkan listrik untuk kepentingan sistem energi di luar daerah.

Potensi pemanfaatan langsung panas bumi (direct use) dapat dikaji untuk kegiatan ekonomi lokal sepanjang memenuhi aspek keselamatan dan lingkungan.

“Kalau sumber daya ada di wilayah masyarakat, maka masyarakat harus mendapatkan manfaat yang nyata, bukan hanya menerima dampak dan melihat energi tersebut keluar dari daerahnya,” tegas KAWALI.

KAWALI: Ciremai Bukan Sekadar Lokasi Proyek

Bagi KAWALI DPD Kabupaten Kuningan, pembahasan geotermal Gunung Ciremai bukan persoalan antara kelompok yang pro atau anti pembangunan.

Persoalannya adalah bagaimana energi terbarukan dikembangkan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi dan keadilan ekologis.

Sebelum proyek berjalan, KAWALI meminta pemerintah dan pihak terkait menjawab sejumlah pertanyaan mendasar:

  • Bagaimana kondisi baseline seluruh sumber air di kawasan Ciremai?
  • Di mana lokasi pengeboran dan fasilitas pendukung?
  • Bagaimana sistem reinjeksi akan dilakukan?
  • Bagaimana mitigasi potensi kegempaan terinduksi?
  • Bagaimana perlindungan terhadap hutan dan habitat satwa?
  • Bagaimana masyarakat dilibatkan dalam pengawasan?
  • Siapa pihak independen yang mengawasi?
  • Siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi gangguan terhadap sumber air masyarakat?

KAWALI menegaskan tidak menolak kebutuhan terhadap energi terbarukan. Namun, pembangunan tidak boleh mengorbankan fungsi ekologis Gunung Ciremai.

“Ciremai bukan sekadar lokasi proyek. Ciremai adalah sumber kehidupan. Karena itu, kita harus memastikan energi yang dihasilkan tidak dibayar dengan hilangnya sumber air, rusaknya hutan atau hilangnya ruang hidup masyarakat.”

Bagi KAWALI, energi bersih memang penting. Tetapi air bersih adalah kehidupan. Jangan sampai atas nama energi bersih, masyarakat justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar: air.

Red

Pos terkait