MUTIARA TERKUBUR DALAM LUMPUR: MASYARAKAT BATULANTEH UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA BANG ZUL

Catatan Jurnalis Tribun Tipikor . Com. Irwanto Messa

Ada wilayah yang kaya, tetapi terlalu lama dipaksa hidup dalam keterbatasan. Ada masyarakat yang setiap hari bekerja keras menghasilkan pangan, namun harus berjibaku dengan lumpur dan debu hanya untuk membawa hasil pertanian keluar dari kampungnya.

Itulah wajah Kecamatan Batulanteh selama bertahun-tahun.

Batulanteh bukan sekadar wilayah di pedalaman Sumbawa. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang penting bagi perekonomian masyarakat Kabupaten Sumbawa. Namun potensi besar itu seolah menjadi mutiara yang lama terkubur dalam lumpur, karena persoalan akses dan infrastruktur jalan terus menjadi tantangan.

Puluhan tahun masyarakat Batulanteh bertahan. Mereka menanam, memanen, mengangkut hasil bumi, dan menjalankan roda ekonomi dengan kondisi jalan yang jauh dari kata ideal.

Petani boleh menghasilkan komoditas, tetapi tanpa jalan yang layak, hasil pertanian sulit memiliki nilai ekonomi maksimal.

Di titik inilah pembangunan infrastruktur bukan sekadar soal beton dan aspal. Jalan adalah urat nadi kehidupan masyarakat.

Karena itu, ketika pada masa kepemimpinan Dr. H. Zulkieflimansyah (Bang Zul) sebagai Gubernur NTB pembangunan dan peningkatan akses jalan lintas Batudulang–Tepal mendapat perhatian, masyarakat Batulanteh memiliki alasan untuk menyampaikan apresiasi.

Bagi masyarakat di wilayah yang selama puluhan tahun akrab dengan lumpur dan debu, sebuah jalan yang lebih baik bukan sekadar proyek pemerintah.

Itu adalah harapan.

Harapan agar hasil pertanian lebih mudah dipasarkan. Harapan agar biaya transportasi dapat ditekan. Harapan agar anak-anak lebih mudah bersekolah dan masyarakat lebih mudah mendapatkan akses pelayanan dasar.

Dan yang paling penting, harapan agar Batulanteh tidak lagi dipandang sebagai wilayah yang jauh dan tertinggal hanya karena persoalan akses.

Maka ucapan terima kasih kepada Bang Zul bukan sekadar basa-basi politik.

Ini adalah suara apresiasi masyarakat yang merasakan bahwa perhatian terhadap infrastruktur dapat membuka pintu bagi bergeraknya perekonomian di wilayah mereka.

Namun apresiasi tidak boleh berhenti menjadi nostalgia.

Justru keberhasilan dan perhatian yang pernah diberikan harus menjadi tongkat estafet bagi pemerintahan berikutnya untuk melanjutkan, memperbaiki, dan menyempurnakan pembangunan.

Sebab masyarakat Batulanteh tidak membutuhkan janji yang hanya terdengar menjelang momentum politik.

Mereka membutuhkan jalan yang benar-benar bisa dilalui.

Mereka membutuhkan infrastruktur yang berkelanjutan.

Mereka membutuhkan pemerintah yang hadir bukan hanya ketika kamera menyala, tetapi juga ketika masyarakat masih berkutat dengan lumpur, tanjakan, debu, dan sulitnya mengangkut hasil bumi.

Batulanteh adalah mutiara. Jangan biarkan mutiara itu kembali terkubur.

Terima kasih Bang Zul, atas perhatian terhadap pembangunan dan akses masyarakat Batulanteh pada masa kepemimpinan Anda.

Kini pekerjaan rumah itu berada di tangan pemerintah hari ini dan pemerintah berikutnya:

Jangan hanya meneruskan jalan yang sudah dibuka. Bukalah pula jalan menuju kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat Batulanteh.

Karena bagi rakyat, jalan bukan sekadar infrastruktur.

Jalan adalah jalan keluar dari keterisolasian menuju kesejahteraan.

Sumbawa Besar NTB
29 Agustus 2026

Pos terkait