Kuningan|Tribun Tipikor.com
Peringatan Hari Ulang Tahun Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) ke-75 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan Marhaenisme yang digagas oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Hal tersebut disampaikan Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).
Menurut Iwa, lahirnya Marhaenisme berawal dari pengalaman Bung Karno saat masih menempuh pendidikan di Bandung. Dalam salah satu perjalanan di wilayah Bandung Selatan, Bung Karno bertemu dengan seorang petani yang kemudian dikenal sebagai Ki Marhaen.
Dalam percakapan sederhana tersebut, Bung Karno menanyakan kepada sang petani mengenai kepemilikan sawah, siapa yang menggarapnya, dan untuk siapa hasil panennya. Ki Marhaen menjawab bahwa sawah tersebut miliknya sendiri, digarap sendiri, dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sebelum sisanya dijual.
“Dialog sederhana itu ternyata menjadi inspirasi besar bagi Bung Karno dalam merumuskan ajaran Marhaenisme. Bung Karno melihat bahwa rakyat Indonesia memiliki alat produksi sendiri, namun masih hidup dalam berbagai keterbatasan akibat sistem ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil,” ujar Iwa.
Menurutnya, dari peristiwa itulah lahir konsep Marhaenisme yang kemudian menjadi dasar perjuangan politik Bung Karno dalam membangun Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan berdikari. Gagasan tersebut juga menjadi bagian dari konsep Trisakti yang menekankan kedaulatan politik, kepribadian dalam kebudayaan, dan kemandirian ekonomi.
Iwa menjelaskan bahwa Indonesia dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik di daratan maupun lautan. Karena itu, semangat Marhaenisme mengajarkan bahwa kekayaan alam bangsa harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
“Bung Karno memiliki keyakinan kuat bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kekayaan alam yang dimiliki negeri ini harus menjadi modal untuk membangun kesejahteraan rakyat, bukan sekadar dinikmati oleh segelintir pihak,” katanya.
Ia menilai semangat tersebut masih sangat relevan hingga saat ini, terutama ketika bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan berupa ketimpangan ekonomi, penguasaan sumber daya alam, kerusakan lingkungan, dan kesenjangan sosial yang masih dirasakan sebagian masyarakat.
Menurut Iwa, pembangunan nasional harus benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, petani, nelayan, buruh, pelaku usaha mikro, serta masyarakat adat yang selama ini menjadi bagian penting dari fondasi bangsa.
“Marhaenisme bukan sekadar romantisme sejarah. Ini adalah gagasan yang menempatkan rakyat sebagai pusat pembangunan dan pemilik sah kedaulatan ekonomi bangsa. Ketika tanah, air, dan sumber daya alam dikelola secara adil dan bertanggung jawab, maka kesejahteraan rakyat dapat terwujud,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi harus mampu menghadirkan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan hidup bagi generasi mendatang.
Dalam pandangannya, nilai-nilai Marhaenisme dapat menjadi salah satu alternatif pemikiran untuk menghadapi tantangan global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat.
“Indonesia harus memperkuat kemandirian nasional. Kita harus memastikan bahwa hasil pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” ujarnya.
Pada momentum Dirgahayu Gerakan Pemuda Marhaenis ke-75, Iwa mengajak generasi muda untuk kembali mempelajari pemikiran Bung Karno dan menjadikannya inspirasi dalam membangun masa depan bangsa yang lebih adil, mandiri, dan sejahtera.
“Marhaenisme harus menjadi gerakan yang hidup di tengah masyarakat, membela kepentingan rakyat kecil, memperjuangkan keadilan sosial, serta menjaga kedaulatan bangsa. Semangat itu harus terus diwariskan kepada generasi muda sebagai penerus perjuangan bangsa,” kata Iwa.
Menutup pernyataannya, Iwa menyampaikan pesan dan slogan perjuangan yang menjadi semangat kaum Marhaen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan yang hakiki.
“Dirgahayu Gerakan Pemuda Marhaenis ke-75. Menuju Kemandirian Bangsa, Indonesia Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari dalam Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan.”
“Marhaen Bersatu, Marhaen Berjuang, Marhaen Menang!” pungkasnya.
red /dri





