Kuningan|Tribun Tipikor.com
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan memperkuat strategi pemerataan pendidikan melalui pengembangan program “PKBM Desa Asuh”, sebuah skema pendidikan nonformal yang dirancang untuk menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.
Program tersebut menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam menekan angka putus sekolah sekaligus memperluas akses pendidikan kesetaraan bagi warga yang belum menyelesaikan pendidikan formal.
Melalui pola pembinaan itu, setiap Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) akan mendampingi tiga hingga empat desa binaan. Sistem tersebut diharapkan mampu mendekatkan layanan pendidikan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan kondisi ekonomi.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Disdikbud Kabupaten Kuningan, Dicky Mahardika, mengatakan pendidikan nonformal kini memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.
“Program PKBM Desa Asuh diharapkan mampu memperkuat keterlibatan PKBM di desa binaannya masing-masing sehingga masyarakat dapat lebih mudah memperoleh akses pendidikan kesetaraan,” ujar Dicky, Kamis (21/5/2026).
Saat ini, Kabupaten Kuningan tercatat memiliki sekitar 113 PKBM aktif yang tersebar di berbagai kecamatan. Keberadaan lembaga tersebut menjadi salah satu garda terdepan pelayanan pendidikan bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti sekolah formal secara reguler.
Layanan yang diberikan meliputi Program Paket A setara SD, Paket B setara SMP, hingga Paket C setara SMA. Selain pendidikan kesetaraan, PKBM juga mulai berkembang sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui berbagai pelatihan keterampilan dan pendidikan kecakapan hidup.
Disdikbud menilai pendekatan pendidikan nonformal harus terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern. Karena itu, sistem pembelajaran kini dirancang lebih fleksibel dengan jadwal yang menyesuaikan aktivitas warga belajar.
“Metode pembelajaran juga diarahkan berbasis proyek dan pendekatan kontekstual agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Dicky.
Tak hanya fokus pada pendidikan akademik, penguatan program Dikmas juga diarahkan pada peningkatan keterampilan produktif masyarakat. Berbagai pelatihan seperti tata boga, menjahit, komputer, tata rias, pengasuhan anak, hingga keterampilan berbasis UMKM mulai dikembangkan di sejumlah PKBM.
Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat kemandirian warga desa.
Untuk memperluas jangkauan program, Disdikbud juga mendorong PKBM agar aktif menggelar sosialisasi dan workshop rutin di desa binaan. Langkah itu dinilai penting guna meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan nonformal.
Menurut Dicky, pendidikan masyarakat saat ini tidak lagi dipandang sebagai jalur alternatif semata, melainkan bagian penting dari pembangunan pendidikan inklusif yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Melalui penguatan program PKBM Desa Asuh, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap kesenjangan akses pendidikan dapat terus ditekan sekaligus menciptakan pemerataan kualitas pendidikan hingga tingkat desa.
| andri hdw |





