Kuningan|Tribun Tipikor.com
Ketua DPC Sundawani Kuningan Kota, Dian Basudiman, melontarkan kritik keras terhadap polemik penggunaan anggaran untuk pengadaan telepon genggam yang dinilai tidak berpihak kepada kebutuhan masyarakat kecil.
Menurut Dian, di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih sulit, pemerintah seharusnya lebih mengutamakan kebutuhan dasar rakyat dibanding pengadaan fasilitas yang dianggap tidak mendesak.
“Daripada beli iPhone, lebih baik anggarannya untuk gaji RT. RT itu garda terdepan yang paling tahu kondisi masyarakat,” tegas Dian saat dimintai tanggapannya terkait isu penggunaan anggaran untuk pengadaan telepon genggam.
Ia menilai peran RT sangat penting karena menjadi pihak yang bersentuhan langsung dengan persoalan sosial masyarakat sehari-hari, mulai dari pendataan warga kurang mampu hingga persoalan bantuan sosial dan keamanan lingkungan.
Menurutnya, perhatian terhadap kesejahteraan aparatur lingkungan seperti RT jauh lebih bermanfaat dibanding pengadaan barang mewah yang tidak memiliki urgensi tinggi bagi kepentingan publik.
“Masih banyak masyarakat yang kurang sandang, pangan, papan. Untuk makan saja harus banting tulang. Sangat disayangkan kalau uang rakyat dipakai untuk hal yang tidak terlalu bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Dian juga menyampaikan kritik sosial menggunakan ungkapan bahasa Sunda yang sarat makna.
“Nuna beuh nabeuh nu lapar-lapar, nu sebeuh-sebeuh nu lapar-lapar. Kaeling… kaeling..!” katanya.
Ungkapan tersebut menggambarkan ketimpangan sosial yang masih terjadi di masyarakat, ketika sebagian rakyat hidup dalam keterbatasan, sementara ada pihak yang justru menikmati fasilitas mewah dari anggaran negara.
Dian mengingatkan bahwa setiap rupiah dari pajak rakyat harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat dan kebutuhan yang benar-benar prioritas.
“Lebih baik pinjam uang ke pinjol untuk beli HP tapi punya harga diri, daripada memakai uang rakyat untuk kepentingan yang tidak tepat sasaran,” sindirnya.Selasa ( 12/5/2026 )
Ia berharap para pengambil kebijakan lebih peka terhadap kondisi masyarakat bawah dan tidak melupakan amanah yang diberikan rakyat.
“Kaeling… kaeling…!” pungkasnya.
( andri hdw )





