Google Bangkit dari Blunder Bard, Agus M. Maksum: Ini Bukan Soal AI, Tapi Perebutan Kedaulatan Platform

Jakarta |Tribun TIPIKOR.com

Kegagalan awal Google dalam merespons kehadiran ChatGPT bukan sekadar blunder produk, melainkan titik balik strategis yang memaksa raksasa teknologi itu melakukan transformasi besar-besaran. Hal tersebut disampaikan pengamat teknologi dan transformasi digital, Agus M. Maksum, saat mengulas dinamika persaingan Google dan OpenAI dalam era kecerdasan buatan generatif.

Menurut Agus, kepanikan Google pasca peluncuran ChatGPT pada akhir 2022 menjadi momen langka dalam sejarah perusahaan yang selama dua dekade mendominasi mesin pencari global. “Untuk ukuran Google, terlihat panik di ruang publik adalah kesalahan besar. Tapi justru dari blunder itulah kita melihat perubahan paling serius,” ujarnya.

Ia menilai kegagalan Google Bard pada demo awal bukan karena keterbatasan teknologi, melainkan akibat dilepasnya produk secara tergesa-gesa demi mengejar persepsi pasar. “Google bukan tertinggal secara teknis. Mereka terlambat secara strategis karena terlalu lama menjaga bisnis iklan,” kata Agus.

Agus menjelaskan, sebelum ChatGPT populer, Google sejatinya telah menguasai fondasi teknologi AI melalui Google Brain dan DeepMind, termasuk pengembangan arsitektur transformer yang kini menjadi tulang punggung hampir seluruh model AI modern. Namun kehati-hatian berlebihan membuat Google kalah cepat dalam adopsi publik.

“Kelebihan ChatGPT bukan pada kecerdasan semata, tapi keberanian untuk hadir lebih dulu dan membentuk kebiasaan pengguna,” ujarnya.
Pasca kegagalan Bard, Google melakukan langkah drastis dengan menggabungkan Google Brain dan DeepMind menjadi satu entitas, Google DeepMind, di bawah kepemimpinan Demis Hassabis. Langkah ini, menurut Agus, menandai perubahan DNA organisasi Google dari birokratis menjadi lebih agresif dan berorientasi produk.

Transformasi tersebut kemudian melahirkan Gemini, yang dinilai Agus bukan sekadar chatbot, melainkan otak baru yang disematkan ke seluruh ekosistem Google, mulai dari Search, Gmail, YouTube, hingga Google Docs dan Sheets.

“Gemini tidak meminta pengguna mengubah kebiasaan. Ia menyusup ke rutinitas digital yang sudah digunakan miliaran orang. Ini keunggulan strategis yang tidak dimiliki OpenAI,” jelasnya.
Selain itu, Agus menyoroti langkah Google mempercepat pengembangan infrastruktur, termasuk penggunaan TPU, penguatan Google Cloud, dan pembangunan pusat data berskala besar. Dampaknya terlihat dari kembali meningkatnya kepercayaan pasar dan melonjaknya saham Alphabet dalam beberapa periode terakhir.

Meski demikian, Agus mengakui ChatGPT masih unggul dalam persepsi publik dan jumlah pengguna aktif. “Ini menunjukkan bahwa teknologi canggih tidak otomatis menang. Yang menang adalah yang paling diterima manusia,” katanya.

Ia menegaskan, persaingan Google dan OpenAI kini tidak lagi sebatas kecanggihan model AI, tetapi menyangkut perebutan ulang perilaku pengguna, sumber pendapatan iklan, dan pembentukan model bisnis baru berbasis AI.
“Ini soal siapa yang menguasai platform, data, dan arus ekonomi digital ke depan,” tegas Agus.
Dalam konteks Indonesia, Agus melihat momen ini sebagai peringatan serius. Ia menilai Indonesia masih terjebak sebagai konsumen teknologi, tanpa kedaulatan data dan ekosistem bisnis AI yang kuat.

“Kita bicara AI, tapi datanya di luar negeri. Kita paham teknologinya, tapi tidak membangun mesin ekonominya. Jika ini terus dibiarkan, kita hanya akan jadi pasar,” ujarnya.

Agus menutup dengan refleksi bahwa kebangkitan Google memberikan pelajaran penting bagi dunia teknologi dan negara berkembang. “Yang menang bukan yang paling pintar, tapi yang berani mengakui kesalahan, membenahi fondasi, dan membangun teknologi sekaligus model bisnisnya,” pungkasnya.

| red |

Pos terkait