Sorgum Kuningan Menatap Industri Bioetanol Lampung

Koperasi MLBK Bandar Lampung melakukan studi banding ke PSI Kuningan untuk memperkuat manajemen agro berbasis ekosistem dan menyiapkan potensi sorgum sebagai bahan baku bioetanol.

KUNINGAN, 4 Oktober 2026 — Pengembangan sorgum mulai mendapat perhatian seiring rencana pengembangan industri bioetanol di Lampung. Bagi petani dan koperasi, peluang tersebut sekaligus menuntut kesiapan produksi, tata kelola, serta kepastian pasar.

Koperasi Maju Lestari Bersama Kita (MLBK) dari Bandar Lampung melakukan study banding ke Petani Sorgum Indonesia (PSI) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Ketua Koperasi MLBK, Anom Sumarno, menunjuk Marhamis sebagai bagian dari tim studi untuk mempelajari pengembangan sorgum di PSI Kuningan yang dibina Rayhan Ari Subari.

Fokus kajian diarahkan pada manajemen agro berbasis ekosistem, mencakup budidaya, pendampingan petani, pengelolaan produksi, kelembagaan koperasi, hingga hubungan dengan pasar dan industri.

Pendekatan tersebut sejalan dengan moto Petani Sorgum Indonesia: “Inovasi, Edukasi, Inkam.”

Tiga prinsip itu menempatkan inovasi dan edukasi sebagai fondasi peningkatan produktivitas, sementara pendapatan petani menjadi salah satu indikator keberhasilan pengembangan komoditas.

Peluang dari Industri Bioetanol

Peluang pasar sorgum semakin terbuka dengan rencana pengembangan pabrik bioetanol di Lampung oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) bersama Toyota Group, termasuk Toyota Motor dan Toyota Tsusho.

Pabrik tersebut direncanakan berlokasi di wilayah Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan dengan konsep multi-feedstock.

Pada tahap awal, bahan baku yang digunakan adalah molase tebu. Selanjutnya, bahan baku dapat dikembangkan menggunakan singkong dan sorgum.

Kapasitas produksi ditargetkan sekitar 60.000 kiloliter per tahun, dengan target operasi sekitar 2027–2028. Nilai investasi yang disebut sekitar Rp340 miliar.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung penggunaan bahan bakar nabati, termasuk campuran bioetanol dalam bensin seperti E10.

Masuknya sorgum dalam rencana diversifikasi bahan baku membuka peluang baru bagi petani. Namun, industri membutuhkan pasokan yang konsisten sehingga kesiapan sektor hulu menjadi faktor penting.

Menyiapkan Petani Sebelum Pabrik Beroperasi

Kebutuhan industri tidak hanya menyangkut volume produksi, tetapi juga kontinuitas dan kualitas bahan baku.

Karena itu, pengembangan sorgum perlu menjawab sejumlah persoalan: ketersediaan benih, produktivitas lahan, teknologi budidaya, standar kualitas, pola pembelian, harga, hingga mekanisme kemitraan antara petani dan industri.

Dalam konteks tersebut, koperasi dapat berperan sebagai penghubung antara petani dengan industri.

Koperasi dapat mengonsolidasikan produksi, membantu penerapan standar budidaya, memperkuat posisi tawar petani, serta membangun pola kemitraan yang lebih terukur.

Bagi petani, kepastian pasar menjadi faktor penting sebelum melakukan perluasan budidaya.

Sementara bagi industri, kepastian pasokan merupakan syarat utama agar kapasitas produksi dapat dipertahankan.

Keduanya membutuhkan ekosistem yang saling mendukung.

Belajar dari Kuningan untuk Lampung

Studi banding MLBK ke PSI Kuningan menjadi bagian dari upaya memahami model pengembangan sorgum yang dapat diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan Lampung.

Pengalaman PSI yang dibina Rayhan Ari Subari menjadi bahan pembelajaran dalam melihat pengelolaan sorgum secara lebih terintegrasi, tidak hanya dari aspek produksi tetapi juga kelembagaan dan keberlanjutan usaha tani.

Bagi Lampung, tantangannya adalah memastikan kesiapan petani dan kelembagaan berjalan seiring dengan perkembangan industri bioetanol.

Pembangunan pabrik akan membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Karena itu, persiapan lahan, petani, koperasi, teknologi dan rantai pasok perlu dilakukan sejak awal.

Dengan pendekatan tersebut, sorgum dapat memiliki posisi strategis dalam pengembangan agribisnis sekaligus mendukung diversifikasi bahan baku bioetanol.

Pada akhirnya, keberhasilan ekosistem ini tidak hanya diukur dari kapasitas produksi pabrik, tetapi juga dari kemampuan menciptakan pasar yang berkelanjutan dan meningkatkan pendapatan petani.

Inovasi menghasilkan teknologi, edukasi meningkatkan kapasitas, dan inkam memastikan manfaat ekonominya sampai kepada petani.

Dari Kuningan, pembelajaran itu menjadi bekal untuk Lampung menghadapi peluang baru di sektor sorgum dan energi terbarukan.

Koperasi MLBK Bandar Lampung melakukan studi banding ke PSI Kuningan untuk memperkuat manajemen agro berbasis ekosistem dan menyiapkan potensi sorgum sebagai bahan baku bioetanol.

KUNINGAN – Tribun Tipikor.com

Pengembangan sorgum mulai mendapat perhatian seiring rencana pengembangan industri bioetanol di Lampung. Bagi petani dan koperasi, peluang tersebut sekaligus menuntut kesiapan produksi, tata kelola, serta kepastian pasar.

Koperasi Maju Lestari Bersama Kita (MLBK) dari Bandar Lampung melakukan study banding ke Petani Sorgum Indonesia (PSI) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Ketua Koperasi MLBK, Anom Sumarno, menunjuk Marhamis sebagai bagian dari tim studi untuk mempelajari pengembangan sorgum di PSI Kuningan yang dibina Rayhan Ari Subari.Minggu ( 4/10/2026 )

Fokus kajian diarahkan pada manajemen agro berbasis ekosistem, mencakup budidaya, pendampingan petani, pengelolaan produksi, kelembagaan koperasi, hingga hubungan dengan pasar dan industri.

Pendekatan tersebut sejalan dengan moto Petani Sorgum Indonesia: “Inovasi, Edukasi, Inkam.”

Tiga prinsip itu menempatkan inovasi dan edukasi sebagai fondasi peningkatan produktivitas, sementara pendapatan petani menjadi salah satu indikator keberhasilan pengembangan komoditas.

Peluang dari Industri Bioetanol

Peluang pasar sorgum semakin terbuka dengan rencana pengembangan pabrik bioetanol di Lampung oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) bersama Toyota Group, termasuk Toyota Motor dan Toyota Tsusho.

Pabrik tersebut direncanakan berlokasi di wilayah Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan dengan konsep multi-feedstock.

Pada tahap awal, bahan baku yang digunakan adalah molase tebu. Selanjutnya, bahan baku dapat dikembangkan menggunakan singkong dan sorgum.

Kapasitas produksi ditargetkan sekitar 60.000 kiloliter per tahun, dengan target operasi sekitar 2027–2028. Nilai investasi yang disebut sekitar Rp340 miliar.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung penggunaan bahan bakar nabati, termasuk campuran bioetanol dalam bensin seperti E10.

Masuknya sorgum dalam rencana diversifikasi bahan baku membuka peluang baru bagi petani. Namun, industri membutuhkan pasokan yang konsisten sehingga kesiapan sektor hulu menjadi faktor penting.

Menyiapkan Petani Sebelum Pabrik Beroperasi

Kebutuhan industri tidak hanya menyangkut volume produksi, tetapi juga kontinuitas dan kualitas bahan baku.

Karena itu, pengembangan sorgum perlu menjawab sejumlah persoalan: ketersediaan benih, produktivitas lahan, teknologi budidaya, standar kualitas, pola pembelian, harga, hingga mekanisme kemitraan antara petani dan industri.

Dalam konteks tersebut, koperasi dapat berperan sebagai penghubung antara petani dengan industri.

Koperasi dapat mengonsolidasikan produksi, membantu penerapan standar budidaya, memperkuat posisi tawar petani, serta membangun pola kemitraan yang lebih terukur.

Bagi petani, kepastian pasar menjadi faktor penting sebelum melakukan perluasan budidaya.

Sementara bagi industri, kepastian pasokan merupakan syarat utama agar kapasitas produksi dapat dipertahankan.

Keduanya membutuhkan ekosistem yang saling mendukung.

Belajar dari Kuningan untuk Lampung

Studi banding MLBK ke PSI Kuningan menjadi bagian dari upaya memahami model pengembangan sorgum yang dapat diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan Lampung.

Pengalaman PSI yang dibina Rayhan Ari Subari menjadi bahan pembelajaran dalam melihat pengelolaan sorgum secara lebih terintegrasi, tidak hanya dari aspek produksi tetapi juga kelembagaan dan keberlanjutan usaha tani.

Bagi Lampung, tantangannya adalah memastikan kesiapan petani dan kelembagaan berjalan seiring dengan perkembangan industri bioetanol.

Pembangunan pabrik akan membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Karena itu, persiapan lahan, petani, koperasi, teknologi dan rantai pasok perlu dilakukan sejak awal.

Dengan pendekatan tersebut, sorgum dapat memiliki posisi strategis dalam pengembangan agribisnis sekaligus mendukung diversifikasi bahan baku bioetanol.

Pada akhirnya, keberhasilan ekosistem ini tidak hanya diukur dari kapasitas produksi pabrik, tetapi juga dari kemampuan menciptakan pasar yang berkelanjutan dan meningkatkan pendapatan petani.

Inovasi menghasilkan teknologi, edukasi meningkatkan kapasitas, dan inkam memastikan manfaat ekonominya sampai kepada petani.

Dari Kuningan, pembelajaran itu menjadi bekal untuk Lampung menghadapi peluang baru di sektor sorgum dan energi terbarukan.

andri hdw

Pos terkait