Meski demikian, manfaat program belum dirasakan secara merata oleh seluruh keluarga penerima manfaat (KPM).
BOJONEGORO Jatim, tribuntipikor.com // Sebuah Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tampaknya saat ini semakin mulai menunjukkan dampak terhadap perputaran ekonomi di tingkat desa. Seperti meningkatnya penjualan pakan, distribusi obat dan vitamin ternak, serta perdagangan telur sampai-sampai menjadikan indikator bahwa program pemberdayaan tersebut mulai menggerakkan berbagai sektor usaha.
Meski demikian, manfaat program belum dirasakan secara merata oleh seluruh keluarga penerima manfaat (KPM). Sebagian KPM masih berada dalam tahap adaptasi, sementara yang lain belum mencapai produksi optimal, manajemen pemeliharaan, maupun faktor teknis lainnya. Namun demikian, geliat ekonomi yang tercipta dari rantai usaha peternakan mulai terlihat dan menjadi harapan bagi keberlanjutan program.
Salah seorang KPM Program GAYATRI, Bambang, warga Kecamatan Kanor, mengaku keluarganya mulai merasakan tambahan penghasilan dari hasil penjualan telur.
“Alhamdulillah, sekarang setiap hari ada hasil dari penjualan telur. Memang belum besar, tetapi cukup membantu kebutuhan rumah tangga dan membeli pakan lagi. Harapan kami produksi terus meningkat agar penghasilannya juga bertambah,” ujarnya.
Karman juga memahami bahwa tidak semua KPM memiliki kondisi yang sama. Menurutnya, ada rekan-rekan sesama penerima manfaat yang masih menunggu ayam memasuki masa produksi maksimal sehingga belum menikmati hasil sebagaimana yang diharapkan.
Di sisi lain, dampak ekonomi juga dirasakan pelaku usaha penunjang. Joko, salah seorang agen pakan di Bojonegoro, mengatakan permintaan pakan ayam meningkat sejak Program GAYATRI berjalan.
“Dulu pembeli pakan didominasi peternak besar. Sekarang banyak KPM GAYATRI yang rutin membeli pakan. Omzet kami ikut naik. Ini menunjukkan roda ekonomi mulai bergerak karena hasil penjualan telur kembali diputar untuk membeli pakan dan kebutuhan ternak lainnya,” katanya.
Menurutnya, efek berganda (multiplier effect) menjadi semakin nyata ketika transaksi tidak hanya terjadi antara peternak dan pembeli telur, tetapi juga melibatkan distributor pakan, pedagang, jasa angkut, hingga pelaku usaha kecil di desa.
Disisi lain, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga memperkuat keberlangsungan program melalui kebijakan penyerapan hasil produksi telur lokal. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar sekaligus memberikan kepastian bagi para peternak binaan.
Program GAYATRI pada akhirnya tidak hanya diproyeksikan sebagai bantuan sosial, tetapi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Walaupun sebagian penerima manfaat belum sepenuhnya merasakan hasil yang optimal, perputaran ekonomi yang mulai terbentuk menunjukkan bahwa program ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila terus didukung dengan pendampingan, pembinaan, dan akses pasar yang berkelanjutan. (KingSoli/Tim)





