SIARAN PERS RILIS BERITA RESMI STATISTIKBPS PROVINSI JAWA BARAT

BPS Jawa Barat Rilis Data Ekonomi Terbaru: Juni 2026 Inflasi 0,28 persen, Neraca Perdagangan Cetak Surplus USD 11,31 Miliar

KOTA BANDUNG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa fundamental ekonomi Jawa Barat di pertengahan tahun 2026 ini berada dalam kondisi yang ekspansif dan resilien di tengah tantangan musiman.

Melalui rilis resmi indikator strategis terbaru, BPS Jabar mengonfirmasi bahwa kendati inflasi Juni terkerek naik ke level 0,28 persen akibat penyesuaian harga energi dan dampak awal musim kemarau, stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga kokoh yang ditandai dengan menguatnya daya beli petani serta capaian surplus neraca perdagangan luar negeri yang menembus angka fantastis USD 11,31 miliar. Demikian disampaikan Kepala BPS Provinsi Jawa Barat dalam rilis Berita Resmi Statistik, Rabu (1/7/2026).

Melalui siaran langsung di kanal YouTube BPS Jabar, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati memaparkan perkembangan komprehensif terkait inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), kinerja pariwisata, pergerakan transportasi, hingga rapor ekspor-impor Jawa Barat.

Inflasi Juni 2026 Terkatung Kenaikan BBM Non-Subsidi dan Dampak Kemarau
Pada bulan Juni 2026, Provinsi Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara month-to-month (m-to-m). Adapun tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date) berada di level 1,70 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year) melesat di angka 3,08 persen.

“Secara umum, inflasi bulan Juni 2026 sebesar 0,28 persen dipengaruhi kuat oleh naiknya harga bahan bakar minyak non-subsidi untuk jenis Pertamax dan Pertamax Green 95. Kenaikan harga ini memberikan andil inflasi yang cukup besar pada kelompok komoditas bensin, yakni mencapai 0,21 persen,” ujar Ari dalam rilisnya.

Selain faktor energi, Ari menjelaskan adanya tantangan musiman dari sektor pangan seiring datangnya musim kemarau yang mulai terjadi di Jawa Barat.

“Memasuki musim kemarau yang dimulai pada pertengahan tahun 2026 ini, kami mencatat adanya dorongan kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan dan hortikultura akibat menipisnya pasokan di pasar. Komoditas seperti bawang merah mengalami kenaikan dengan andil 0,03 persen, bawang putih memberikan andil 0,02 persen, serta beras dan tomat yang masing-masing menyumbang andil 0,01 persen menjadi pemicu inflasi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat juga menyoroti pergerakan komoditas global dan nilai tukar mata uang asing yang berdampak terhadap inflasi sepanjang Juni 2026.

“Gejolak harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global berimbas secara domestik, di mana harga minyak goreng dalam kemasan mengalami kenaikan di Jawa Barat. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih belum stabil menyebabkan harga komoditas pangan berbasis impor seperti bawang putih turut terkerek naik.”, ujar Ari.

Berdasarkan pemantauan wilayah, Kota Depok mencatatkan inflasi bulanan (m-to-m) tertinggi di Jawa Barat sebesar 0,42 persen. Sedangkan untuk inflasi tahun ke tahun (y-on-y), tertinggi dipegang oleh Kabupaten Majalengka sebesar 3,40 persen, disusul ketat oleh Kota Bandung sebesar 3,37 persen.

“Namun selain yang menyumbang andil infladi ada juga komoditas yang mengalami penurunan harga dan menyumbang andil deflasi yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, ikan mas dan cabai merah.”, rinci Ari.

Kesejahteraan Petani Menguat di Tengah Musim Kemarau, NTP Naik 0,57 persen
Rapor positif ditunjukkan dari tingkat kesejahteraan produsen pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 118,97, meningkat 0,57 persen dibandingkan Mei 2026. Selaras dengan itu, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) terkerek naik 0,55 persen menuju level 123,78.

“Kenaikan NTP maupun NTUP ini didorong oleh naiknya indeks harga yang diterima oleh petani (It) sebesar 0,70 persen, yang lajunya jauh lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya sebesar 0,14 persen. Kenaikan harga di tingkat produsen pertanian ini dipengaruhi langsung oleh harga gabah yang merangkak naik karena musim panen raya sudah berlalu dan stok mulai berkurang. Sementara kenaikan sayur-sayuran dan buah-buahan seperti bawang merah, kol, dan wortel dipengaruhi oleh datangnya musim kemarau,” urai Ari.

Meski begitu, Ari memberikan catatan pengingat mengenai struktur biaya produksi pertanian yang juga mengalami kenaikan dari sisi biaya produksi salah satunya akibat kenaikan harga bensin.

“Petani kita juga menghadapi kenaikan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,15 persen. Hal ini utamanya dipicu oleh komoditas bensin. Bensin ini menjadi sangat esensial dan dibutuhkan oleh petani salah satunya menggerakkan mesin pompa pengairan sawah dan ladang mereka selama musim kemarau.”, jelas Ari.

Pariwisata Jawa Barat Bergairah, Kereta Cepat WHOOSH Jadi Magnet Baru WNA
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat dalam rilisnya juga menyampaikan perkembangan dari sektor pariwisata Jawa Barat yang terus menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan sepanjang Mei 2026. Kunjungan wisman langsung via Bandara Internasional Kertajati mencapai 241 kunjungan, tumbuh sebesar 11,06 persen (m-to-m), walau secara year on year turun 6,23 persen. Kunjungan didominasi oleh warga negara Singapura sebesar 48,96 persen dan Malaysia sebesar 12,45 persen.

Sedangkan dari data Whoosh, moda transportasi modern ini menjadi pintu masuk yang sangat signifikan bagi warga negara asing (WNA) ke Jawa Barat.

“Selama periode Januari-Mei 2026, tercatat akumulasi sebanyak 69.874 kedatangan WNA ke Jawa Barat melalui Stasiun WHOOSH. Khusus pada Mei 2026, kedatangan WNA melonjak 27,32 persen (m-to-m) menjadi 17,523 kunjungan, dengan Stasiun Padalarang menjadi pintu keluar paling dominan sebesar 86,62 persen.”, rinci Ari.

Dalam rilisnya, BPS Provinsi Jawa Barat juga menyampaikan terkait data mobilitas wisnus pada Mei 2026 yang menembus angka 19,52 juta perjalanan. Total perjalanan wisnus sepanjang Januari-Mei 2026 menyentuh 93,45 juta perjalanan atau naik 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Wilayah yang selalu menjadi favorit utama perjalanan wisnus yaitu Kabupaten Bogor sebesar 15,70 persen, dan Kota Bandung sebesar 10,88 persen”, jelas Ari.

Kenaikan kujunngan wisman dan wisnus secara tidak langsung berdampaka terhadap Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang yang naik sebesar 1,95 poin (m-to-m) menjadi 48,21 persen. Dengan TPK tertinggi berada di Kabupaten Purwakarta sebesar 66,83 persen. Sementara TPK hotel non-bintang juga merangkak naik 2,18 poin menjadi 26,19 persen.

Kinerja Angkutan Udara Internasional Melonjak 93,98 persen Dipicu Musim Haji
Pergerakan sektor transportasi Jawa Barat pada Mei 2026 terpantau masif, khususnya pada moda angkutan udara hal ini dikarenakan adanya keberangkatan jamaah haji melalui Bandara Kertajati. Jumlah penumpang domestik tumbuh sebesar 22,09 persen (m-to-m), namun kejutan besar terlihat pada penumpang internasional yang melonjak fantastis hingga 93,98 persen (m-to-m).

“Lonjakan drastis pada rute penerbangan luar negeri ini disebabkan oleh momentum pemberangkatan jamaah haji asal Jawa Barat melalui Bandara Kertajati. Dan ini berimbas juga ke sektor kargo udara internasional yang ikut terkerek melesat naik sebesar 107,90 persen (m-to-m).”, jelas Ari.

Tak mau kalah penumpang kereta api juga naik sebesar 6,95 persen (m-to-m). Sementara itu, volume pengguna Kereta Cepat WHOOSH tumbuh sebesar 5,23 persen (m-to-m) dibanding bulan sebelumnya.

Perdagangan Luar Negeri Gemilang: Neraca Perdagangan Surplus USD 11,31 Miliar
Menutup rilis Berita Resmi Statistik, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari memaparkan performa luar biasa pada sektor perdagangan internasional Jawa Barat untuk akumulasi periode Januari hingga Mei 2026. Jawa Barat sukses membukukan surplus neraca perdagangan luar negeri yang sangat kokoh, yakni mencapai USD 11,31 miliar.

“Angka fantastis ini terbentuk dari akumulasi nilai ekspor Januari-Mei 2026 yang menembus USD 15,97 miliar di mana sektor industri pengolahan memegang kontribusi mutlak sebesar 98,76 persen. Di sisi lain, total impor Jawa Barat pada periode yang sama berhasil ditekan di angka USD 4,66 miliar, dengan struktur penggunaan didominasi oleh bahan baku/penolong sebesar 80,58 persen.”, rinci Ari.

Pada performa bulanan Mei 2026, nilai ekspor tercatat sebesar USD 3,40 miliar ssedikit terkoreksi -1,63 persen (m-to-m), sementara impor berada di level USD 0,98 miliar atau turun 5,99 persen (m-to-m).

Ditinjau berdasarkan mitra dagang antar negara, Jawa Barat meraup surplus dagang terbesar dari Amerika Serikat sebesar USD 2.478,83 juta, Filipina surplus sebesar USD 1.461,52 juta, Vietnam surplus USD 803,59 juta, dan dengan Thaliand surplus 763,63 juta.

Sementara itu, defisit terdalam dialami terhadap perdagangan dengan Tiongkok sebesar USD 912,38 juta, dan dengan Taiwan defisit USD 36,61 juta.

“Melalui rilis data ini, BPS Jawa Barat menegaskan bahwa roda perekonomian daerah terus melaju positif dan ekspansif, namun tetap memerlukan atensi khusus dari pemangku kebijakan untuk memitigasi dampak kekeringan dan gejolak harga komoditas global terhadap ketahanan pangan lokal.”, pungkas Ari.***

Pos terkait