Palutungan Menjerit, Alam Memberi Peringatan: Ketika Ambisi Wisata Mengorbankan Ekologi Kuningan

Kuningan|Tribun Tipikor.com

Bencana banjir yang menerjang kawasan Palutungan dan sekitarnya dinilai bukan sekadar dampak hujan deras semata. Sejumlah pihak menilai, musibah tersebut merupakan akumulasi dari kerusakan ekologis akibat masifnya pembangunan wisata dan perhotelan yang terus merangsek kawasan pegunungan tanpa kontrol yang ketat.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan menegaskan, sejak awal pihaknya sudah mengingatkan agar kawasan Palutungan tetap dijaga dari penetrasi berbagai kepentingan bisnis yang mengatasnamakan pengembangan wisata.

Menurutnya, kawasan tersebut seharusnya steril dari pembangunan fisik yang terus diperluas dan dipermudah perizinannya oleh pemerintah daerah.

“Seperti sudah diprediksi sebelumnya, kawasan Palutungan harus tetap dijaga dari penetrasi berbagai kepentingan yang mengatasnamakan pengembangan wisata dan perhotelan. Lokasi tersebut tidak boleh terus menerus dibebani pembangunan fisik,” tegas Iwa Gunawan di Cigugur, Minggu (24/05/2026).

Ia menyoroti kondisi ironis yang terjadi saat ini, dimana kawasan Palutungan yang berada di daerah menurun justru mengalami banjir cukup parah. Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa sistem drainase dan tata kelola lingkungan sudah tidak lagi mampu menopang perubahan fungsi lahan yang terjadi secara masif.

“Palutungan itu daerah menurun, tapi sekarang malah kebanjiran. Drainase tidak mampu menampung air karena aliran air sudah usang, terbengkalai, dan tidak pernah dibangun secara serius,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut kematian massal ikan dewa di Kolam Cigugur beberapa waktu lalu sebenarnya merupakan peringatan alam yang harus dibaca secara serius oleh pemerintah maupun masyarakat.

Menurutnya, luapan air bercampur lumpur, pasir, limbah, hingga material sampah dari kawasan atas seperti Palutungan dan Cisantana telah merusak keseimbangan ekologis yang selama ini terjaga.

“Kolam Ikan Dewa Cigugur itu sebenarnya sudah memberi pesan kepada manusia agar sadar dan bertobat dalam membangun kawasan di atasnya. Tumpahan air dari Palutungan, luapan dari Cisantana, pasir dan limbah yang masuk ke kolam menyebabkan ikan-ikan mati massal akibat terganggunya ekologi,” katanya.

Ia meminta Pemerintah Kabupaten Kuningan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan wisata di kawasan Palutungan serta memperbaiki seluruh aliran sungai dan drainase dari kawasan atas hingga ke wilayah Cigugur dan sekitarnya.

“Pemerintah harus segera memperbaiki sepanjang aliran sungai dari Palutungan sampai Cigugur. Kalau tidak segera diperbaiki, maka erosi akan semakin parah karena pohon-pohon sudah banyak ditebang dan lahan pertanian berubah fungsi menjadi kawasan wisata,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahaya pembangunan yang hanya berorientasi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun mengabaikan aspek lingkungan hidup, AMDAL, serta perubahan tata air dan drainase.

“Pembangunan tanpa kontrol dan hanya mengejar PAD akan membawa petaka bagi masyarakat di bawahnya. Jangan korbankan sektor fundamental seperti pertanian demi keuntungan sesaat,” kritiknya.

Lebih lanjut, ia mempertanyakan peran sejumlah dinas teknis yang dinilai lalai mengawasi kerusakan lingkungan yang terus terjadi di kawasan tersebut.

“Dinas Lingkungan Hidup, PUPR, Pertanian dan Peternakan selama ini kemana? Jangan hanya melihat tanah sebagai komoditas untuk dikapitalisasi tanpa memikirkan dampak bagi masyarakat dan lingkungan,” tegasnya.

Ia menyebut buruknya pengelolaan limbah, saluran air yang tidak tertata, serta tumpukan sampah plastik, limbah rumah tangga, hingga limbah bengkel yang bercampur dalam aliran sungai menjadi faktor utama penyebab banjir dan longsor yang kini mulai mengancam kawasan bawah Kuningan.

Selain itu, ia juga menyoroti keberadaan wisata buatan yang saat ini sedang melakukan pembangunan hotel di kawasan atas, salah satunya Arunika, yang menurutnya perlu dilakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh terkait legalitas perizinan maupun praktik pembangunan di lapangan.

“Khususnya wisata buatan yang sekarang lagi membangun hotel yaitu Arunika, itu perlu dicrosscheck berapa izin sebenarnya dan bagaimana praktik pembangunannya di lapangan. Itu terlihat ugal-ugalan. Katanya yang punya keluarga DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Lingkungan Hidup, tapi kok pada praktiknya justru merusak lingkungan,” ujarnya.

Ia menegaskan, jangan sampai kekuatan modal dan kedekatan dengan elit kekuasaan dijadikan tameng untuk mengabaikan aturan lingkungan hidup serta mengorbankan keselamatan masyarakat sekitar.

Bahkan, ia memperingatkan apabila pemerintah daerah tidak segera melakukan pembenahan secara konkret dan menyeluruh, maka pihaknya siap menggerakkan kekuatan massa yang lebih besar untuk menuntut penyelamatan lingkungan di kawasan Kuningan, khususnya di daerah Cisantana dan sekitarnya.

“Kalau tidak ada pembenahan serius dari pemerintah daerah, saya akan menggerakkan Pemuda Marhaen se-Jawa Barat untuk turun aksi bersama segenap elemen aktivis lingkungan tingkat nasional. Ini bukan lagi sekadar persoalan wisata, tetapi sudah menyangkut keselamatan ekologis dan masa depan masyarakat Kuningan,” tandas Iwa Gunawan.

Di akhir pernyataannya, Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat itu mengajak seluruh elemen pemerintah untuk kembali pada jati diri Kabupaten Kuningan sebagai daerah agraris yang sejuk, nyaman, dan memiliki kekuatan utama di sektor pertanian serta kelestarian alam.

“Cobalah bertobat dan kembali pada jati diri Kuningan sebagai daerah yang sejuk, nyaman, dan pertaniannya subur. Jangan sampai alam terus memberi peringatan yang lebih besar akibat keserakahan manusia sendiri,” pungkas Iwa Gunawan.

| red /Afni haerunisa |

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *