Kota Bandung Tribun Tipikorcom
Dapur yang berada di wilayah Kota Bandung ini menjadi salah satu simpul penting dalam Program Makan Bergizi Gratis untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik.
Di bawah kepemimpinan Kepala Dapur, MBG Slamet Tiga menerapkan standar operasional yang ketat mulai dari hulu ke hilir. Proses dimulai dini hari: seleksi bahan baku, pencucian, pengolahan, pemasakan, hingga pengemasan dilakukan sesuai SOP keamanan pangan BPOM dan pedoman gizi seimbang Kemenkes. Setiap tahap diawasi ahli gizi dan tim quality control.
Kapasitas produksi dapur mencapai ribuan porsi per hari yang didistribusikan ke puluhan sekolah di Kota Bandung dan sekitarnya. Penjadwalan produksi dibuat presisi agar makanan tiba di sekolah sebelum jam istirahat, dengan suhu dan kualitas tetap terjaga. Sistem logistik menggunakan armada berpendingin dan kontainer food grade.
Kualitas menu menjadi prioritas utama. Kepala Dapur memastikan komposisi “Isi Piringku” terpenuhi: karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, buah, serta susu. Menu disusun ahli gizi secara 20 hari tanpa pengulangan, memperhatikan selera anak, budaya lokal, dan kebutuhan kalori per jenjang usia SD, SMP, hingga SMA.
Kemitraan dengan UMKM lokal dijalankan konsisten. Bahan baku seperti beras, telur, ayam, sayur, buah, dan tempe dipasok dari petani serta peternak di Bandung Raya yang telah lolos kurasi. Skema ini menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menjamin rantai pasok yang pendek dan bahan tetap segar setiap hari.
Aspek keamanan pangan dijaga berlapis. Sampel makanan dari setiap batch produksi disimpan selama 2×24 jam untuk uji jika diperlukan. Dapur rutin diaudit oleh Dinkes, BGN, dan BPOM. Sertifikasi laik higiene, nomor PIRT, dan dokumen halal diperbarui berkala. Petugas dapur wajib memakai APD lengkap dan telah tersertifikasi keamanan pangan.
Responsivitas terhadap masukan sekolah sangat baik. Kepala Dapur membuka kanal pengaduan via WhatsApp dan kunjungan langsung. Uji keberterimaan dan survei kepuasan dilakukan tiap bulan. Jika ada temuan rasa, porsi, atau ketepatan waktu, tim langsung melakukan evaluasi dan perbaikan menu di siklus berikutnya.
Pemberdayaan SDM menjadi fokus. Ratusan tenaga kerja lokal terserap sebagai juru masak, pengemas, driver, dan admin. Pelatihan keamanan pangan, higiene sanitasi, dan K3 dilakukan rutin. Dengan sistem shift yang manusiawi, produktivitas tetap tinggi tanpa mengabaikan kesejahteraan pekerja dapur.
Inovasi terus dikembangkan untuk menekan food waste dan meningkatkan efisiensi. Sisa bahan organik diolah menjadi pakan maggot BSF bekerja sama dengan komunitas, sementara kemasan beralih ke material ramah lingkungan. Digitalisasi pencatatan stok, produksi, dan distribusi memudahkan pelaporan real time ke BGN.
Dengan kinerja luar biasa tersebut, Kepala Dapur MBG Slamet Tiga Kota Bandung berhasil menjadikan dapurnya sebagai role model sentra produksi MBG. Ribuan pelajar mendapat asupan gizi optimal setiap hari, sekaligus ekonomi lokal bergerak dan standar layanan publik di bidang pemenuhan gizi anak semakin terjaga.
Budi Haryanto SE Wapemred





