Sumbawa Besar, NTB —
tribuntipikor.com —
Situs cagar budaya Buin Ai Awak yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal Tau Tana Samawa kini memprihatinkan.
Jejak peradaban yang seharusnya dijaga sebagai identitas daerah justru tampak terbengkalai, tanpa sentuhan serius dari pemerintah daerah.
Di tengah gaung pembangunan yang terus digaungkan, kondisi Buin Ai Awak seolah luput dari perhatian.
Tidak ada penataan, minim perawatan, bahkan tanda-tanda pelestarian pun nyaris tak terlihat.
Padahal, situs ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan simbol jati diri masyarakat Sumbawa yang berlandaskan filosofi “Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah.”
Kondisi ini memantik reaksi keras dari masyarakat. Mereka mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya yang menjadi akar sejarah Tau Samawa.
“Ini bukan sekadar situs biasa.
“Ini marwah daerah.
Kalau dibiarkan rusak, sama saja kita menghapus jejak sejarah sendiri,” ungkap salah satu tokoh masyarakat dengan nada kecewa , kepada awak media tribun Tipikor Sabtu 11/04/26 .
Sorotan pun mengarah pada lemahnya perhatian dan minimnya langkah konkret dari instansi terkait.
Hingga kini, belum terlihat adanya program serius, baik dari sisi perlindungan, revitalisasi, maupun pengembangan kawasan sebagai destinasi edukasi dan wisata budaya.
Lebih ironis lagi, di saat daerah lain berlomba mengangkat situs budaya sebagai daya tarik wisata dan sumber ekonomi, Buin Ai Awak justru terpinggirkan di tanahnya sendiri.
Publik kini menanti keberanian dan keseriusan pemerintah. Apakah warisan budaya ini akan terus dibiarkan terkikis waktu?
Atau justru menjadi prioritas sebelum benar-benar hilang?
Pertanyaan keras pun mengemuka ,
Pemerintah ke mana?
(.Irwanto )





