Jalan Girimulya–Sangiang Berubah Jadi Titik Rawan, Warga Desak Penanganan Nyata

Majalengka (Jawa Barat), Media Tribun Tipikor

Di tengah harapan masyarakat akan infrastruktur yang aman dan layak, kondisi jalan penghubung Girimulya–Sangiang di sekitar Blok Garasiang, Desa Girimulya, Kecamatan Banjaran, justru menghadirkan persoalan yang tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Jalur yang menjadi urat nadi mobilitas warga ini kini berubah menjadi titik rawan yang setiap saat berpotensi memicu kecelakaan.

Setiap hujan turun, kondisi jalan berubah drastis. Aliran air dari perbukitan di atas badan jalan membawa material tanah yang kemudian mengendap menjadi lumpur tebal. Kubangan licin menutup hampir seluruh badan jalan, memaksa pengendara ekstra berhati-hati dan kerap kali kehilangan kendali, terutama bagi pengguna roda dua.

Padahal, jalan ini bukan sekadar jalur penghubung biasa. Jalan tersebut merupakan akses utama yang menggerakkan aktivitas warga dari Girimulya menuju Sangiang, mulai dari bekerja, berdagang, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, jalan ini juga menjadi jalur menuju sejumlah titik wisata di wilayah Sangiang dan sekitarnya, sehingga tidak menutup kemungkinan dilalui oleh pengguna dari luar daerah yang belum mengenal kondisi medan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga, insiden pengendara terjatuh di lokasi tersebut bukan lagi kejadian insidental. Dalam kurun waktu tertentu, peristiwa serupa kerap terjadi, terutama saat dan setelah hujan turun. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi pengguna jalan yang tidak terbiasa melintasi jalur tersebut.

Persoalan semakin kompleks dengan kondisi drainase di sekitar titik kubangan yang tidak lagi berfungsi. Saluran air tertutup material lumpur hingga mengalami kerusakan cukup parah. Akibatnya, air meluap ke badan jalan, memperburuk kondisi sekaligus mempercepat siklus kerusakan yang terus berulang.

Dalam perspektif penanganan infrastruktur, kondisi ini menunjukkan belum optimalnya sistem pengendalian aliran air di kawasan tersebut. Tanpa pembenahan menyeluruh, termasuk stabilisasi tanah di area perbukitan sebagai sumber material, persoalan serupa berpotensi terus berulang setiap musim hujan.

Di tengah kondisi tersebut, warga setempat berupaya melakukan penanganan secara mandiri. Umar bersama sejumlah warga lainnya secara sukarela membersihkan lumpur dari badan jalan agar tetap bisa dilalui. Langkah ini menjadi bentuk kepedulian nyata, meskipun bersifat sementara.

“Sudah sering pengendara, terutama roda dua, terjatuh karena jalan licin dan berlumpur. Kami hanya berusaha membantu sebisanya, tapi tentu ini bukan solusi jangka panjang,” ujar Umar kepada Media Tribun Tipikor, Sabtu (4/4/2026).

Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya penanganan permanen di lokasi tersebut. Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan langkah yang lebih konkret dan berkelanjutan.

Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan tidak bisa lagi bersifat sementara. Diperlukan langkah yang terencana dan menyeluruh, mulai dari pembenahan drainase, normalisasi aliran air, hingga penanganan sumber material tanah di area perbukitan agar tidak terus terbawa ke badan jalan.

Lebih dari sekadar perbaikan fisik, persoalan ini menyangkut keselamatan, kelancaran aktivitas, serta citra wilayah sebagai jalur mobilitas dan akses wisata. Oleh karena itu, kehadiran pemerintah melalui langkah yang cepat, tepat dan berkelanjutan menjadi hal yang sangat dinantikan.

Jika tidak segera ditangani secara serius, jalan Girimulya–Sangiang akan terus berada dalam lingkaran masalah yang sama, berulang, membahayakan, dan perlahan menggerus fungsi vitalnya. Harapan warga kini sederhana namun mendesak, hadirnya solusi nyata yang mampu mengembalikan jalan ini sebagai akses yang aman, layak dan dapat diandalkan.

(Wartawan: Ivan Afriandi)

Pos terkait