RAKYAT MENAMBAL LUKA JALAN SENDIRI
Saat Pajak Dibanggakan, Infrastruktur Ditinggalkan
Sumbawa Besar, NTB – tribun tipikor.com
Di tengah gegap gempita pemerintah daerah membanggakan capaian pendapatan dari pajak rakyat, ironi justru tampak nyata di lapangan.
Di Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, masyarakat harus turun tangan memperbaiki jalan rusak secara swadaya karena perbaikan dari pemerintah tak kunjung datang.
Akses jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara kini berubah menjadi beban rakyat.
Kerusakan parah pada ruas jalan di wilayah tersebut bahkan diketahui telah terhenti pengerjaannya, meninggalkan kondisi jalan yang berlumpur, berlubang, dan sulit dilalui kendaraan.
Akibatnya, aktivitas masyarakat pun terganggu , Mulai dari mobilitas warga, distribusi barang kebutuhan pokok, hingga akses layanan kesehatan.
Namun alih-alih menunggu janji yang tak kunjung terealisasi, warga Lunyuk memilih bergerak sendiri ,
Dengan semangat gotong royong masyarakat menambal dan memperbaiki jalan seadanya agar masih bisa dilalui kendaraan,
Terutama untuk kebutuhan penting seperti ambulans, aktivitas perdagangan, serta akses pendidikan.
Sebuah unggahan di media sosial yang memperlihatkan
Ambulans melintas di jalan berlumpur yang tengah diperbaiki warga menjadi gambaran pilu kondisi tersebut ,
Dalam keterangan unggahan itu tertulis kalimat sederhana namun menohok:
“Hasil swadaya masyarakat Kecamatan Lunyuk.”
Kalimat singkat itu menjadi simbol kepedihan sekaligus keteguhan masyarakat yang tak ingin menyerah pada keadaan.
Namun fakta ini juga memunculkan pertanyaan besar di tengah publik:
Ke mana sebenarnya perginya pajak rakyat yang setiap tahun terus ditarik pemerintah?
Di saat pemerintah menikmati euforia peningkatan pendapatan daerah, masyarakat di pelosok justru harus menambal sendiri infrastruktur dasar yang seharusnya menjadi kewajiban negara.
Bagi warga Lunyuk, jalan bukan sekadar jalur transportasi,
Jalan adalah urat nadi kehidupan yang menentukan akses kesehatan, pendidikan, perdagangan, hingga keselamatan warga.
“Kalau jalan rusak seperti ini, semua aktivitas jadi terhambat, Kami tidak bisa menunggu terus, makanya masyarakat turun langsung memperbaiki,” ujar salah satu warga yang ikut dalam kerja bakti.
Fenomena ini memang menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah bahwa masih ada kebutuhan infrastruktur mendasar yang belum ditangani secara serius.
Masyarakat berharap pemerintah provinsi dan kabupaten segera turun tangan melakukan perbaikan menyeluruh.
Jalan di Kecamatan Lunyuk harus menjadi prioritas, bukan sekadar janji yang berulang tanpa realisasi.
Sebab ketika rakyat harus memperbaiki sendiri jalan negaranya, itu bukan hanya soal gotong royong.
Itu adalah tanda bahwa negara sedang absen di tengah rakyatnya.”Tegas salah satu warga Lunyuk .
(Irwanto)





