Rehabilitasi Kolam Jangan Korbankan Petani di Hilir, Tokoh Pemuda Marhaen Jabar Soroti Penanganan Ikan Dewa Cigugur

Kuningan|Tribun TIPIKOR.com

Lambannya penanganan kematian ikan dewa di kawasan Cigugur menuai sorotan tajam dari tokoh pemuda Jawa Barat. Iwa Gunawan, Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, mendesak pemerintah daerah agar mempercepat rehabilitasi kolam tanpa mengorbankan kepentingan petani dan pemilik kolam di wilayah hilir.

Menurut Iwa, tersisanya sekitar 50 ekor ikan dewa menjadi indikasi bahwa penanganan kematian ikan yang terjadi selama ini tidak berjalan maksimal. Ia menilai langkah pengobatan dan penanganan darurat yang dilakukan belum mampu menghentikan kematian ikan, meskipun berbagai upaya seperti penyediaan tabung oksigen telah dilakukan.

“Jumlah kematian ikan yang mencapai lebih dari seribu ekor menunjukkan penanganannya tidak profesional. Mulai dari keterlambatan pengurasan kolam hingga penanganan ikan yang sudah dalam kondisi kritis tidak dilakukan secara cepat dan tepat,” ujarnya.

Dampak ke Petani dan Kolam Warga

Iwa menegaskan, persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada kelestarian ikan dewa, tetapi juga mengancam pasokan air bagi masyarakat di bagian hilir. Keterlambatan pengeringan dan normalisasi kolam dinilai berpotensi menghambat distribusi air ke kolam warga dan lahan pertanian.

Jika kondisi ini terus berlarut, kata dia, kolam milik masyarakat berisiko mengalami kekurangan air yang menyebabkan ikan mabuk dan mati. Hal serupa juga mengancam sawah warga yang bergantung pada aliran air dari kolam tersebut.

“Ketika pasokan air terhambat, dampaknya bukan hanya pada ikan dewa, tetapi juga pada kolam ikan milik warga dan sawah masyarakat di bawahnya,” katanya.

Desak Percepatan Normalisasi dan Gorong-Gorong

Ia mendorong pemerintah segera mempercepat pembangunan saluran pembuangan air dan normalisasi kolam, termasuk pembukaan kembali sumur dasar kolam yang sebelumnya tertutup. Langkah ini dinilai penting agar kolam dapat kembali berfungsi sebagai penampung air yang menopang kebutuhan masyarakat.

Iwa juga mengingatkan agar rehabilitasi kolam tidak dilakukan secara setengah-setengah atau menunggu korban berikutnya, baik dari sisi ekosistem maupun kerugian ekonomi masyarakat.

“Rehabilitasi harus segera dilakukan agar aliran air kembali normal dan tidak merugikan petani serta pemilik kolam di hilir,” tegasnya.

Soroti Peran PDAM

Selain itu, ia menyebut keberadaan PDAM tidak terdampak langsung oleh kekosongan air di kolam ikan dewa karena pasokan air berasal langsung dari sumber mata air utama. Namun, ia menilai kebijakan penutupan aliran air menuju kolam turut menjadi faktor yang memperparah kondisi kematian ikan.

Khawatirkan Dampak Berkelanjutan

Iwa menilai lambannya penanganan kematian ikan dewa tidak boleh diikuti dengan keterlambatan rehabilitasi kolam. Menurutnya, pekerjaan yang menggantung justru berpotensi memperluas dampak kerusakan, baik terhadap sisa ikan yang masih hidup maupun terhadap keberlangsungan kolam dan sawah masyarakat.

Ia pun mengimbau para pemangku kebijakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk segera mengambil langkah cepat dan komprehensif guna menyelamatkan ekosistem kolam, menjaga pasokan air, serta melindungi kepentingan petani dan masyarakat sekitar.

“Jangan sampai lambatnya penanganan kematian ikan diikuti lambatnya rehabilitasi kolam. Kepentingan air bagi kolam dan sawah masyarakat harus menjadi prioritas,” pungkasnya.

|red/4nd121|

Pos terkait