Majalengka, Media Tribun Tipikor
Konsistensi, kolaborasi, dan harapan bersama menjadikan Paguyuban Silihwangi Majakuning dan KTH sebagai simbol gerakan nyata pelestarian Taman Nasional Gunung Ciremai.
Di lereng hijau Gunung Ciremai, denyut kepedulian itu bergerak tanpa banyak sorotan. Bukan dalam bentuk seremoni sesaat, melainkan kerja sunyi yang konsisten dan berkelanjutan. Di tengah berbagai tantangan terhadap ekosistem hutan—mulai dari ancaman pembalakan liar hingga kebakaran—Paguyuban Silihwangi Majakuning hadir sebagai representasi nyata kepedulian masyarakat yang memilih bertindak daripada sekadar berbicara.
Komitmen itu diwujudkan melalui kolaborasi erat bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) di Wilayah 1 Kabupaten Kuningan dan Wilayah 2 Kabupaten Majalengka. Sinergi lintas wilayah ini dibangun bukan hanya sebagai koordinasi administratif, tetapi sebagai kesatuan visi untuk menjaga kelestarian Ciremai dalam jangka panjang.
100 Ribu Bibit, Gerakan Swadaya yang Mengakar
Sebagai wujud keseriusan, Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama KTH telah merealisasikan penanaman kurang lebih 100.000 bibit pohon secara swadaya di kawasan TNGC. Penanaman dilakukan secara bertahap dan terencana, melibatkan unsur Muspika, pelajar, hingga komunitas pecinta alam.
Namun, gerakan ini tidak berhenti pada penanaman. Setiap bibit dirawat, dipantau pertumbuhannya, dan disulam apabila tidak tumbuh optimal. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pelestarian bukanlah kegiatan simbolik, melainkan tanggung jawab ekologis yang menuntut kesabaran, disiplin, dan konsistensi.
“Kalau bukan kita yang peduli dan menjaga TNGC, lalu siapa lagi? Tidak semua orang bersedia turun langsung ke lapangan. Ada yang peduli, tetapi hanya sebatas kata-kata tanpa aksi nyata. Kami memilih bergerak dan membuktikan kepedulian itu dengan tindakan,” tegas Ketua Paguyuban, Nandar.
Pernyataan tersebut merefleksikan satu hal mendasar: keberlanjutan lingkungan hanya dapat dijaga melalui kerja konkret yang terukur dan berkesinambungan.
Pengawasan dan Edukasi: Dua Pilar Penting
Selain rehabilitasi lahan, paguyuban bersama KTH juga aktif dalam pengawasan kawasan untuk mencegah potensi illegal logging, kebakaran hutan, serta perburuan satwa dilindungi. Kesadaran menjaga keseimbangan flora dan fauna menjadi fondasi utama gerakan ini.
Pendekatan edukatif turut menjadi bagian integral. Masyarakat diajak memahami bahwa hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan penyangga kehidupan—penyedia cadangan air, penjaga kualitas udara, sekaligus pelindung dari ancaman bencana ekologis.
Salah seorang warga, Nano, mengaku menyaksikan langsung konsistensi gerakan tersebut. “Saya melihat sendiri bagaimana mereka rutin turun ke lapangan untuk menanam, merawat, dan menjaga hutan. Itu bukan pekerjaan mudah, tetapi mereka melakukannya dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Ia menilai langkah tersebut menjadi teladan bagi masyarakat luas. “Menjaga Gunung Ciremai harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan,” tambahnya.
Simbol Integritas dan Harapan
Keberadaan Gunung Ciremai bukan hanya kebanggaan Jawa Barat, tetapi juga penopang keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Hutan yang terjaga berarti sumber air tetap mengalir, kualitas udara tetap terpelihara, dan risiko bencana ekologis dapat diminimalkan.
Melalui kerja kolektif yang konsisten, komunikasi yang terbuka, serta komitmen yang terjaga, Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama KTH kian mengukuhkan diri sebagai simbol integritas dan kepedulian. Lebih dari sekadar organisasi, mereka adalah wajah gerakan masyarakat yang percaya bahwa masa depan yang baik hanya dapat diwujudkan dengan menjaga alam hari ini.
Harapan pun terus tumbuh: semakin banyak elemen masyarakat, generasi muda, hingga pemangku kebijakan yang tergerak untuk bersama menjaga TNGC. Sebab pada akhirnya, kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.
(Endi)





