Kematian Ikan Dewa di Cigugur Jadi Penanda Rapuhnya Ekosistem Hulu

Kuningan|Tribun TIPIKOR.con

Kematian massal ikan dewa (Tor douronensis) di kawasan mata air Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dinilai sebagai penanda terganggunya keseimbangan ekosistem wilayah hulu. Peristiwa ini kembali membuka persoalan mendasar terkait tata kelola air, alih fungsi lahan, serta menurunnya kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai kematian ikan dewa spesies endemik yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air tidak dapat dilepaskan dari rusaknya habitat alami di sekitar sumber mata air.

“Jika ikan yang hidup tepat di sumber mata air saja bisa mati, ini menunjukkan ada persoalan serius dalam ekosistemnya. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru kehilangan keseimbangannya,” ujar Iwa, Kamis (5/2/2026).

Perubahan Aliran dan Struktur Mata Air
Menurut Iwa, kematian ikan dewa dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem dan terganggunya sirkulasi alami mata air. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan perubahan kualitas air, sementara aliran mata air yang berfungsi menyuplai oksigen tidak lagi mengalir secara optimal.

Ia juga menyoroti perubahan fisik kolam ikan dewa yang kini tidak lagi menyediakan rongga-rongga alami sebagai jalur ikan menuju sumber mata air.

“Dulu terdapat celah-celah alami tempat ikan bergerak mencari oksigen segar. Kini banyak yang tertutup tembok, coran, atau jaring. Saat kondisi kritis, ikan kehilangan ruang untuk bertahan hidup,” katanya.

Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya pasokan makanan alami, sehingga daya tahan ikan dewa kian menurun.
Air dan Orientasi Pembangunan

Iwa menilai peristiwa ini mencerminkan pergeseran cara pandang terhadap air yang kian menjauh dari fungsi ekologisnya. Air, kata dia, kini lebih sering diposisikan sebagai komoditas ekonomi ketimbang sumber kehidupan.

“Air hari ini bernilai ketika diproduksi dan diperjualbelikan, sementara fungsi ekologisnya justru sering diabaikan,” ujarnya.

Padahal, wilayah Parahyangan khususnya Jawa Barat secara historis dikenal sebagai kawasan yang kaya sumber air. Banyaknya daerah dengan awalan “Ci” (cai/air) menjadi penanda kuat relasi masyarakat Sunda dengan air sebagai sumber kehidupan.

“Ironis ketika wilayah yang dikenal subur dan kaya mata air justru mengalami tekanan ekologis,” tambahnya.

Alih Fungsi Lahan dan Hilangnya Daya Resap
Selain persoalan air, Iwa menyoroti maraknya alih fungsi lahan di sekitar mata air Cigugur. Kawasan resapan dan hutan berubah menjadi permukiman, fasilitas wisata, hingga bangunan komersial, yang secara langsung mengurangi kemampuan alam dalam menyimpan dan mengalirkan air secara alami.

Akibatnya, debit air ke wilayah hilir menurun, sementara ekosistem di sekitar sumber air mengalami gangguan serius.

“Ketika hutan di hulu terganggu, dampaknya bukan hanya dirasakan manusia, tetapi juga makhluk hidup lain yang sepenuhnya bergantung pada keseimbangan alam,” katanya.

Alarm bagi Tata Kelola Lingkungan
Bagi Iwa, kematian ikan dewa di Cigugur merupakan alarm ekologis yang menandai rapuhnya keseimbangan ekosistem hulu.

“Ikan dewa mati di sumber airnya sendiri. Ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk menata ulang cara kita memperlakukan alam, terutama air sebagai sumber kehidupan bersama,” tegasnya.

Ia mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif serta kebijakan pengelolaan air yang lebih adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada keselamatan ekosistem.
Solusi Konkret: Mengembalikan Kolam Ikan Dewa ke Kondisi Alami

Sebagai langkah nyata, Iwa mengusulkan agar kolam ikan dewa Cigugur dikembalikan sedekat mungkin ke kondisi alaminya, antara lain:
Membuka kembali aliran mata air utama yang selama ini dibatasi atau dikuasai jaringan PDAM, termasuk menghilangkan keran dan pembatas buatan jika diperlukan.

Mengembalikan jalur pembuangan air ke pola semula agar sirkulasi air berjalan seimbang dan tidak menimbulkan stagnasi.
Membuka kembali coran atau saluran air yang tertutup, khususnya pada titik kemunculan air dari dalam tanah, guna menjaga suplai oksigen dan kualitas air.

Menghentikan penutupan rongga-rongga alami yang selama ini menjadi jalur pergerakan ikan menuju mata air.

Menggalakkan penghijauan di sekitar kawasan mata air serta mengganti pohon tumbang dengan bibit tanaman yang cukup dewasa untuk mempercepat pemulihan ekosistem.
Menjaga debit air minimum ekologis agar aliran yang masuk ke kolam mencukupi kebutuhan hidup ikan endemik tanpa merusak tatanan alam.

“Dengan langkah-langkah itu, kualitas air kolam Cigugur dapat kembali sehat, sehingga kelangsungan hidup ikan kancra dewa benar-benar terjamin,” ujarnya.

Iwa menutup dengan ajakan reflektif agar peristiwa ini tidak dipandang sekadar sebagai kematian ikan, melainkan sebagai pesan alam.
“Ikan dewa memberi isyarat saat keseimbangan benar-benar terganggu. Kita diajak bercermin apakah masih mau mempertahankan kehidupan yang serasi, selaras, dan seimbang. Alam dan seluruh ciptaan-Nya adalah untuk kehidupan kita bersama, dalam memuji dan memuliakan Sang Pencipta,” pungkasnya.

| red/andri hdw |

Pos terkait