Sulawesi, Tribuntipikor Online _
Kecelakaan penerbangan yang hilang kontak dan jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada 17 Januari 2026.
Pesawat ATR 42 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT mengalami kecelakaan pada 17 Januari 2026 saat melakukan penerbangan dari Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.[1][2] Pesawat jenis ATR 42-500 tersebut, sempat dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sebelum kemudian ditemukan jatuh dan hancur di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Tanggal
17 Januari 2026
Ringkasan
Controlled Flight Into Terrain (CFIT)
Lokasi
Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan
4°57′08″S 119°42′54″E
Orang dalam pesawat
10
Penumpang
3
Awak
7
Tewas
1
Hilang
9
Jenis pesawat
ATR 42-500
Operator
Indonesia Air Transport (IAT) digunakan oleh Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan
Asal
Bandar Udara Internasional Adisutjipto (JOG)
Tujuan
Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin (UPG)
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang digunakan oleh Kementerian Kelautan & Perikanan.
Sehari sebelum kecelakaan, pada Jumat, 16 Januari 2026, pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan mengalami kendala mesin saat berada di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.[8][9] Direktur Operasional Indonesia Air Transport, Capt. Edwin, menyatakan bahwa kendala tersebut bukan merupakan masalah berat dan dapat diperbaiki dalam waktu singkat.[10][11]
Setelah perbaikan dilakukan, pesawat dinyatakan layak terbang dan berhasil melakukan penerbangan ke Yogyakarta tanpa insiden.[12] Pada keesokan harinya, pesawat melanjutkan penerbangan menuju Makassar.[13]
Pesawat tersebut dicarter oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk keperluan pemantauan dan pengawasan aktivitas penangkapan ikan ilegal.[14] Meski demikian, pihak KKP belum dapat memastikan apakah kegiatan pengawasan dilakukan selama penerbangan tersebut.
Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini memiliki spesifikasi sebagai berikut:[16][17]
Jenis: ATR 42-500
Registrasi: PK-THT
Nomor seri: 611
Tahun pembuatan: 2000
Negara pembuat: Prancis–Italia
Operator: Indonesia Air Transport
Fungsi penerbangan: Patroli udara (air surveillance) Direktorat Penanganan Pelanggaran Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan & Perikanan RI
Lepas landas dan hilang kontak
sunting
Pesawat lepas landas dari Bandar Udara Internasional Adisutjipto (JOG), Yogyakarta, pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, pukul 08.08 WIB. Pesawat membawa 10 orang yang terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang.
Pada pukul 12.23 WITA (04.23 UTC), pesawat diarahkan oleh pemandu lalu lintas udara (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan (approach) menuju landasan pacu (runway) 21 di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Namun, radar mendeteksi bahwa pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. ATC sempat memberikan instruksi koreksi posisi dan arahan lanjutan, tetapi komunikasi terputus sesaat setelah instruksi terakhir diberikan. Pesawat secara resmi dilaporkan hilang kontak pada pukul 13.37 WITA.
Pencarian dan penemuan
sunting
AirNav Indonesia segera mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase). Upaya pencarian melibatkan tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI Angkatan Udara, dan kepolisian.
Pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, titik jatuh pesawat berhasil diidentifikasi di kawasan Gunung Bulusaraung, yang merupakan wilayah perbatasan antara Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
07.17 WITA: Tim patroli udara menemukan serpihan awal berwarna putih.
07.46 WITA: Terlihat serpihan jendela pesawat dari helikopter pemantau.
08.02 WITA: Tim darat menemukan serpihan besar pesawat di sisi utara puncak bukit.
08.09 WITA: Bagian badan dan ekor pesawat ditemukan di lereng bagian selatan gunung.
Respons awal
sunting
AirNav Indonesia Cabang MATSC segera berkoordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat, Kepolisian Resor Maros, serta otoritas bandara. Bandar Udara Sultan Hasanuddin membuka Crisis Center sebagai pusat koordinasi informasi.
Target awal pencarian difokuskan di kawasan pegunungan kapur Bantimurung, termasuk wilayah Desa Leang-leang, Kabupaten Maros. Notice to Airmen (NOTAM) diterbitkan untuk mendukung keselamatan navigasi udara selama operasi pencarian.
Keterlibatan TNI Angkatan Udara
sunting
TNI Angkatan Udara mengerahkan unsur udara dan darat untuk mendukung operasi SAR. Pencarian udara dilakukan menggunakan helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 dan pesawat Boeing 737-200 dari Skadron Udara 5.
Setelah titik jatuh pesawat berhasil diidentifikasi di kawasan Gunung Bulusaraung, TNI AU menurunkan lima personel Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) dan satu personel Basarnas ke lokasi menggunakan helikopter. Selain itu, tim darat gabungan dari Lanud Sultan Hasanuddin, Yon Parako 473 Korpasgat, dan Yon Arhanud 23 Korpasgatdikerahkan untuk memperkuat pencarian di medan darat.
Jumlah personel SAR gabungan yang terlibat dilaporkan mencapai 400–500 orang.
Penemuan korban
sunting
Tim SAR gabungan menemukan satu korban di jurang dekat lokasi serpihan pesawat pada 18 Januari 2026. Korban ditemukan tidak jauh dari titik jatuh utama pesawat dan berada di lereng gunung.
Korban dievakuasi menuju Posko AJU Tompobulu, Kabupaten Pangkep, sebelum dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Hingga saat laporan ini disusun, identitas resmi korban belum diumumkan oleh otoritas.
Penumpang dan awak
sunting
Awak pesawat (7 orang)
sunting
Andy Dahananto (Kapten)
Muhammad Farhan (Co-Pilot)
Restu Adi
Dwi Murdiono
Florentea Lolita
Esther Aprilita S.
Hariadi
Penumpang (3 orang)
sunting
Tiga penumpang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) yang sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara:
Ferry Irawan – Penata Muda Tingkat 1 / Analis kapal pengawas
Deden Mulyana – Penata Muda Tingkat 1 / Pengelola barang milik negara
Yoga Naufal – Operator foto udara
KNKT
sunting
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan bahwa kecelakaan ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Dalam kategori ini, pesawat masih berada dalam kendali awak, namun menabrak medan atau lereng gunung.
KNKT menyebut pesawat menabrak lereng Gunung Bulusaraung, yang menyebabkan pesawat pecah menjadi beberapa bagian. Hingga saat ini, KNKT masih melakukan investigasi lanjutan untuk menentukan faktor penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan pengaruh cuaca, kondisi operasional, dan aspek teknis pesawat.
Tanggapan pemerintah dan DPR
sunting
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, memastikan pemerintah akan melakukan investigasi menyeluruh atas kecelakaan ini dan terus memantau proses evakuasi.
Sementara itu, Komisi V DPR RI meminta Kementerian Perhubungan dan KNKT melakukan audit terhadap pemeliharaan dan kelaikudaraan pesawat, mengingat usia pesawat yang telah beroperasi sejak tahun 2000 serta potensi pengaruh cuaca ekstrem di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Kondisi cuaca
sunting
Informasi awal menunjukkan jarak pandang di sekitar lokasi kejadian mencapai sekitar 8 kilometer dengan kondisi sedikit berawan.[18] Namun, di kawasan pegunungan Bulusaraung, kondisi cuaca dilaporkan berkabut tebal dan berubah cepat, sehingga menyulitkan operasi pencarian dan evakuasi.[19] Koordinasi lanjutan dilakukan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Referensi: antaranews.com (2026-01-17). “Pesawat ATR hilang kontak di Maros dalam tahap pencarian”. Antara News. Diakses tanggal 2026-01-18.
Liputan6.com (2026-01-17). “Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Maros, Kemenhub Kasih Penjelasan”. liputan6.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
“Pesawat ATR 42-500 jatuh di Sulsel – Apa saja yang sudah diketahui?”. BBC News Indonesia. 2026-01-18. Diakses tanggal 2026-01-18.
“Detik-detik Jatuhnya Pesawat ATR yang Disewa KKP di Sulawesi Selatan, Begini Cerita Saksi Mata”. Tribunsumsel.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
rijal.yunus@kompas.com, Saiful Rijal Yunus- (2026-01-19). “Mengenal CFIT, Situasi Pesawat ATR 42-500 yang Menabrak Gunung Bulusaraung”. Kompas.id. Diakses tanggal 2026-01-19.
developer, mediaindonesia com. “Pencarian Pesawat ATR 42-500 Tetap Dilakukan Malam Hari di Empat Titik”. mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
(Redaksi)





