KUNINGAN | tribun TIPIKOR.com
Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menyoroti semakin parahnya kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Ciremai akibat alih fungsi lahan dan pengembangan wisata yang dinilai tidak terkendali. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan kegagalan penataan ruang yang tidak berpihak pada rakyat dan kelestarian alam.
Iwa menegaskan bahwa Gunung Ciremai memiliki fungsi strategis sebagai kawasan resapan air dan penyangga kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun, masifnya penebangan pohon dan perubahan fungsi hutan menjadi kawasan wisata eksklusif telah menggerus keseimbangan ekologis.
“Kerusakan yang terjadi hari ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan keadilan sosial. Ketika hutan rusak, yang pertama merasakan dampaknya adalah petani dan masyarakat kecil,” ujar Iwa, Rabu (7/1/2026).
Ia menyebut, berkurangnya simpanan air tanah yang ditandai dengan semakin dalamnya sumur warga menjadi bukti nyata bahwa daya dukung lingkungan di Gunung Ciremai terus menurun. Jika kondisi ini dibiarkan, dampak jangka panjangnya akan mengancam ketahanan pangan dan keberlanjutan hidup masyarakat.
Menurut Iwa, pembangunan pariwisata seharusnya berjalan seiring dengan prinsip konservasi dan pemberdayaan rakyat, bukan justru menyingkirkan fungsi hutan dan lahan pertanian. Ia mengingatkan bahwa ideologi Marhaenisme menempatkan petani sebagai subjek utama pembangunan, bukan korban pembangunan.
“Gunung Ciremai tidak boleh hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi. Ia adalah sumber kehidupan. Pembangunan harus berbasis kerakyatan, melindungi ruang hidup petani, dan menjaga keseimbangan alam,” tegasnya.
Iwa juga mendesak pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin-izin wisata yang berpotensi merusak lingkungan. Penegakan aturan, termasuk larangan bangunan permanen di kawasan tertentu, harus dilakukan secara tegas dan konsisten.
“Jika pemerintah serius ingin kesejahteraan rakyat, maka keberpihakan pada lingkungan dan petani harus menjadi prioritas, bukan sekadar mengejar pendapatan asli daerah dari sektor wisata,” pungkasnya.
| red /4nd121 |





